BAB I
Peserta Didik
Perkembangan mengacu pada bagaimana seorang tumbuh, beradaptasi, dan berubah disepanjang perjalanan hidupnya. Orang tumbuh, beradaptasi, dan berubah melalui perkembangan fisik, perkembangan kepribadian, perkembangan sosioemosional (sosial dan emosi), perkembangan kognitif (berpikir), dan perkembangan manusia menurut teori Piaget (kognitif dan moral) serta teori perkembangan kognitif menurut Lev Vygotsky. Setidaknya ada lima faktor yang dapat memengaruhi kinerja peserta didik kita, yaitu lingkungan keluarga, atmosfer persekawanan, sumber daya sekolah, kecerdasan yang berasal dari dalam diri sendiri, dan aksesibilitas pencapaian informasi.
Peserta didik adalah makhluk yang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrahnya masing-masing, mereka memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju kearah titik optimal kemampuan fitrahnya.
Didalam pandangan yang lebih modern anak didik tidak hanya dianggap sebagai objek atau sasaran pendidikan, melainkan juga mereka harus diperlukan sebagai subjek pendidikan, diantaranya adalah dengan cara melibatkan peserta didik dalam memecahkan masalah dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan pengertian ini, maka anak didik dapat dicirikan sebagai orang yang tengah memerlukan pengetahuan atau ilmu, bimbingan dan pengarahan.Dasar-dasar kebutuhan anak untuk memperoleh pendidikan, secara kodrati anak membutuhkan dari orang tuanya. Dasar-dasar kpdrati ini dapat dimengerti dari kebutuhan-kebutuhan dasar yang dimiliki oleh setiap anak dalam kehidupannya, dalam hal ini keharusan untuk mendapatkan pendidikan itu jika diamati lebih jauh sebenarnya mengandung aspek-aspek kepentingan, antara lain :
1.1.Aspek
Paedogogis.
Dalam aspek ini para pendidik mendorang manusia sebagai animal educandum, makhluk yang memerlukan pendidikan. Dalam kenyataannya manusia dapat dikategorikan sebagai animal, artinya binatang yang dapat dididik, sedangkan binatang pada umumnya tidak dapat dididik, melainkan hanya dilatih secara dresser. Adapun manusia dengan potensi yang dimilikinya dapat dididik dan dikembangkan kearah yang diciptakan.
1.2.Aspek Sosiologi dan Kultural.
Menurut ahli sosiologi, pada perinsipnya manusia adalah moscrus, yaitu makhlik yang berwatak dan berkemampuan dasar untuk hidup bermasyarakat.
1.3.Aspek Tauhid.
Aspek tauhid ini adalah aspek pandangan yang mengakui bahwa manusia adalah makhluk yang berketuhanan, menurut para ahli disebut homodivinous (makhluk yang percaya adanya tuhan) atau disebut juga homoriligius (makhluk yang beragama).
Sedangkan Karateristik peserta didik meliputi perkembangan fisik, perkembangan sosioemosional, dan perkembangan intelektual/mental. Perkembangan intelektual peserta didik melalui empat tahap yaitu sensorimotor, praoperasi, operasi konkrit, dan operasi formal.
Perkembangan Peserta Didik Dalam Pendidikan Islam. Peserta didik adalah setiap manusia yang sepanjang hidupnya selalu dalam perkembangan. Kaitannya dengan pendidikan adalah bahwa perkembangan peserta didik itu selalu menuju kedewasaan dimana semuanya itu terjadi karena adanya bantuan dan bimbingan yang diberikan oleh pendidik. Bantuan dan bimbingan yang diberikan oleh pendidik sangat dipengaruhi oleh pandangan pendidik itu sendiri terhadap peserta didik. Dalam hal ini anak ( peserta didik ) merupakan sarana dalam proses pendidikan.
Pertumbuhan dan perkembangannya yang dialami oleh peserta didik sangat dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu faktor pembawaan ( warisan ), faktor lingkungan dan faktor kematangan ( internal ). Dalam proses perkembangan seseorang, ada beberapa aliran yang menjelaskan tentang teori perkembangan, antara lain :
Aliran Nativisme.Dalam aliran ini dijelaskan bahwa perkembangan manusia itu ditentukan oleh pembawaannya, sedangkan pengalaman dan pendidikan tidak berpengaruh apa-apa ( Arthur Sckonenhauer : 1788 – 1860 ). Faktor pembawaan ini bersifat kodrati dari lahir dan tidak dapat diubah oleh pengaruh alam sekitar. Faktor inilah yang akan membentuk kepribadian manusia.2. Aliran Empirisme Pada aliran ini dijelaskan bahwa perkembangan manusia itu semata-mata tergantung pada lingkungan dengan pengalaman pendidikannya ( John Locke ). 3. Aliran KonvergensiAliran ini adalah gabungan antara aliran empirisme dengan aliran nativisme.
Dalam aspek ini para pendidik mendorang manusia sebagai animal educandum, makhluk yang memerlukan pendidikan. Dalam kenyataannya manusia dapat dikategorikan sebagai animal, artinya binatang yang dapat dididik, sedangkan binatang pada umumnya tidak dapat dididik, melainkan hanya dilatih secara dresser. Adapun manusia dengan potensi yang dimilikinya dapat dididik dan dikembangkan kearah yang diciptakan.
1.2.Aspek Sosiologi dan Kultural.
Menurut ahli sosiologi, pada perinsipnya manusia adalah moscrus, yaitu makhlik yang berwatak dan berkemampuan dasar untuk hidup bermasyarakat.
1.3.Aspek Tauhid.
Aspek tauhid ini adalah aspek pandangan yang mengakui bahwa manusia adalah makhluk yang berketuhanan, menurut para ahli disebut homodivinous (makhluk yang percaya adanya tuhan) atau disebut juga homoriligius (makhluk yang beragama).
Sedangkan Karateristik peserta didik meliputi perkembangan fisik, perkembangan sosioemosional, dan perkembangan intelektual/mental. Perkembangan intelektual peserta didik melalui empat tahap yaitu sensorimotor, praoperasi, operasi konkrit, dan operasi formal.
Perkembangan Peserta Didik Dalam Pendidikan Islam. Peserta didik adalah setiap manusia yang sepanjang hidupnya selalu dalam perkembangan. Kaitannya dengan pendidikan adalah bahwa perkembangan peserta didik itu selalu menuju kedewasaan dimana semuanya itu terjadi karena adanya bantuan dan bimbingan yang diberikan oleh pendidik. Bantuan dan bimbingan yang diberikan oleh pendidik sangat dipengaruhi oleh pandangan pendidik itu sendiri terhadap peserta didik. Dalam hal ini anak ( peserta didik ) merupakan sarana dalam proses pendidikan.
Pertumbuhan dan perkembangannya yang dialami oleh peserta didik sangat dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu faktor pembawaan ( warisan ), faktor lingkungan dan faktor kematangan ( internal ). Dalam proses perkembangan seseorang, ada beberapa aliran yang menjelaskan tentang teori perkembangan, antara lain :
Aliran Nativisme.Dalam aliran ini dijelaskan bahwa perkembangan manusia itu ditentukan oleh pembawaannya, sedangkan pengalaman dan pendidikan tidak berpengaruh apa-apa ( Arthur Sckonenhauer : 1788 – 1860 ). Faktor pembawaan ini bersifat kodrati dari lahir dan tidak dapat diubah oleh pengaruh alam sekitar. Faktor inilah yang akan membentuk kepribadian manusia.2. Aliran Empirisme Pada aliran ini dijelaskan bahwa perkembangan manusia itu semata-mata tergantung pada lingkungan dengan pengalaman pendidikannya ( John Locke ). 3. Aliran KonvergensiAliran ini adalah gabungan antara aliran empirisme dengan aliran nativisme.
BAB II
Pertumbuhan dan Perkembangan
|
|
|
Ilustrasi
|
2.1. Pengertian Pertumbuhan
Pertumbuhan
adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan
fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat pada
waktu yang normal. Pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses transmisi
dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaan jasmaniah ) yang herediter
dalam bentuk proses aktif secara berkesinambungan. Jadi, pertumbuhan berkaitan
dengan perubahan kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur
biologis.
2.2.
Pengertian Perkembangan
Secara
umum konsep perkembangan dikemukakan oleh Werner(1957) bahwa perkembangan
berjalan dengan prinsip orthogenetis, perkembangan berlangsung dari keadaan
global dan kurang berdiferensiasi sampai ke keadaan di mana diferensiasi,
artikulasi, dan integrasi meningkat secara bertahap. Proses diferensiasi
diartikan sebagai prinsip totalitas pada diri anak. Dari penghayatan totalitas itu lambant laun bagian-
bagiannya akan menjadi semakin nyata dan bertambah jelas dalam kerangka
keseluruhan.
2.3.
Menurut Para Ahli
Pendapat
para ahli biologi tentang arti pertumbuhan dan perkembangan pernah dirangkumkan
oleh Drs. H. M. Arifin, M. Ed. bahwa pertumbuhan diartikan sebagai suatu
penambahan dalam ukuran bentuk, berat atau ukuran dimensif tubuh serta
bagian-bagiannya. Sedangakn perkembangan menunjuk pada perubahan-perubahan
dalam bentuk bagian tubuh dan integrasi pelbagai bagiannya ke dalam satu
kesatuan fungsional bila pertumbuhan itu berlangsung. Intinya bahwa pertumbuhan
dapat diukur sedangkan perkembangan hanya dapat dilihat gejala-gejalanya.
Perkembangan dipersyarati adanya pertumbuhan.
2.4. Perbedaan Pertumbuhan dan Perkembangan
Tumbuh
merupakan perubahan ukuran organisme karena bertambahnya sel-sel dalam setiap
tubuh organisme yang tidak bisa diukur oleh alat ukur atau bersifat
kuantitatif. Atau secara bahasanya perubahan ukuran organisme dari kecil
menjadi besar. Sedangkan, berkembang merupakan salah satu perubahan organisme
ke arah kedewasaan dan biasanya tidak bisa diukur oleh alat ukur atau bersifat
kualitatif.
2.5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan
Perkembangan
Menurut
Santrok (1992), banyak aspek yang dipengaruhi faktor genetik. Para ahli genetik
menaruh minat yang sangat besar untuk mengetahui dengan pasti tentang variasi
karakteristik yang dapat dipengaruhi oleh faktor genetik. Kecerdasan dan
temperamen merupakan aspek-aspek-yang paling banyak ditelaah yang dalam
perkembangannya dipengaruhi oleh keturunan.
- Kecerdasan
Arthur Jensen (1969) mengemukakan pendapatnya bahwal kecerdasan itu diwariskan (diturunkan). Ia juga mengemukakan bahwa lingkungan dan budaya hanya mempunyai peranan minimal dalam kecerdasan.
- Temperamen
Temperamen adalah gaya-perilaku karakteristik individu dalam merespons. Ahli-ahli perkembangan sangat tertarik mengenai temperamen bayi. Sebagian bayi sangat aktif menggerak-gerakkan tangan, kaki dan mulutnya dengan keras, sebagian lagi lebih tenang, sebagian anak menjelajahi lingkungannya dengan giat pada waktu yang lama dan sebagian lagi tidak demikian.
2.6. Fase-Fase Perkembangan
Setiap
orang berkembang dengan karakteristik tersendiri. Hampir sepanjang waktu
perhatian kita tertuju pada keunikan masing-masing. Sebagai manusia, sctiap
orang melalui jalan-jalan yang umum. Setiap diri kita mulai belajar berjalan
pada usia satu tahun, berjalan pada usia dua tahun, tenggelam pada permainan
fantasi pada masa kanak-kanak dan belajar mandiri pada usia remaja.
Menurut
Santrok dan Yussen (1992) perkembangan adalah pola gerakan atau perubahan yang
dimulai pada saat terjadi pembuahan dan berlangsung terus selama siklus
kehidupan. Dalam perkembangan terdapat pertumbuhan. Pola gerakan itu kompleks
karena merupakan hasil (produk) dari beberapa proses: proses biologis, proses
kognitif dan proses sosial.
Untuk
memudahkan pemahaman tentang perkembangan maka dilakukan pembagian berdasarkan
waktu-waktu yang dilalui manusia dengan sebutan fase. Santrok dan Yussen
membaginya atas lima yaitu: fase pranatal (saat dalam kandungan), fase bayi,
fase kanak-kanak awal, fase anak akhir dan fase remaja. Perkiraan waktu
ditentukaii padn setiap fase tintuk memperoleh gambaran waktu suatu fase itu
dimulai dan berakhir.
1. Fase pra natal (saat dalam
kandungan) adalah waktu yang terletak antara masa pembuahan dan masa kelahiran.
Pada saat ini terjadi pertumbuhan yang luar biasa dari satu sel menjadi satu
organisme yang lengkap dengan otak dan kemampunn berperilaku, dihasilkan dalam
waktu Iebih kurang sembilan bulan.
- Fase bayi adalah saat
perkembangan yang berlangsung sejak lahir sampai 18 atau 24 bulan. Masa
ini adalah masa ynng sangat bergantung kepada orang tua. Banyak
kegiatan-kegiatan psikologis yang baru dimulai misalnya; bahasa,
koordinasi sensori motor dan sosialisasi.
- Fase kanak-kanak awal adalah
fase perkembangan yang berlangsung sejak akhir masa bayi sampai 5 atau 6
tahun, kadang-kadang disebut masa pra sekolah. Selama fase ini mereka
belajar melakukan sendiri banyak hal dan berkembang
keterampilan-keterampilan yang berkaitan dengan kesiapan untuk bersekolah
dan memanfaatkan waktu selama beberapa jam untuk bermain sendiri ataupun
dengan temannya. Memasuki kelas satu SD menandai berakhirnya fase ini.
- Fase kanak-kanak tengah dan
akhir adalah fase perkembangan yang berlangsung sejak kira-kira umur 6
sampai 11 tahun, sama dengan masa usia sekolah dasar. Anak-anak menguasai
keterampilan-keterampilan dasar membaca, menulis dan berhitung. Secara
formal mereka mulai memastiki dunia yang lebih luas dengan budayanya.
Pencapaian prestasi menjadi arah perhatian pada dunia anak, dan
pengendalian diri sendiri bertambah pula.
- Fase remaja adalah masa
perkembangan yang merupakan transisi dari masa anak-kanak ke masa dewasa
awal, yang dimulai kira-kira umur 10 sampai 12 tahun dan berakhir
kira-kira umur 18 sampai 22 tahun. Remaja mengalami perubahan-penibahan
fisik yang sangat cepat, perubahan perbandingan ukuran bagian-bagian
badan, berkembangnya karakteristik seksual seperti membesarnya payudara,
tumbuhnya rambut pada bagian tertentu dan perubahan suara. Pada fase ini
dilakukan upaya-upaya untuk mandiri dan pencarian identifas diri.
Pemikirannya Iebih logis, abstrak dan idealis. Semakin lama banyak waktu
dimanfaatkan di luar keluarga.
Pada saat ini para ahli tidak lagi berpendapat bahwa perubahan-perubahan akan berakhir pada fase ini. Mereka mengatakan bahwa perkembangan merupakan proses yang terjadi sepanjang hayat.
BAB III
Anak Usia Dini
Anak usia dini memiliki karakteristik yang khas, baik secara fisik, psikis,
sosial, moral dan sebagainya. Masa kanak-kanak juga masa yang paling penting
untuk sepanjang usia hidupnya. Sebab masa kanak-kanak adalah masa pembentukan
pondasi dan masa kepribadian yang akan menentukan pengalaman anak selanjutnya.
Sedemikian pentingnya usia tersebut maka memahami karakteristik anak usia dini
menjadi mutlak adanya bila ingin memiliki generasi yang mampu mengembangkan
diri secara optimal.
Pengalaman yang dialami anak pada usia dini akan berpengaruh kuat terhadap
kehidupan selanjutnya. Pengalaman tersebut akan bertahan lama. Bahkan tidak
dapat terhapuskan, walaupun bisa hanya tertutupi. Bila suatu saat ada stimulasi
yang memancing pengalaman hidup yang pernah dialami maka efek tersebut akan
muncul kembali walau dalam bentuk yang berbeda.
Beberapa
hal menjadi alasan pentingnya memahami karakteristik anak usia dini.
Sebagian dari alasan tersebut dapat diuraikan sebagaimana berikut :
- Usia dini merupakan usia yang
paling penting dalam tahap perkembangan manusia, sebab usia tersebut
merupakan periode diletakkannya dasar struktur kepribadian yang dibangun
untuk sepanjang hidupnya. Oleh karena itu perlu pendidikan dan pelayanan
yang tepat.
- Pengalaman awal sangat penting,
sebab dasar awal cenderung bertahan dan akan mempengaruhi sikap dan
perilaku anak sepanjang hidupnya, disamping itu dasar awal akan cepat
berkembang menjadi kebiasaan. Oleh karena itu perlu pemberian pengalaman
awal yang positif.
- Perkembangan fisik dan mental
mengalami kecepatan yang luar biasa, dibanding dengan sepanjang usianya.
Bahkan usia 0 – 8 tahun mengalami 80% perkembangan otak dibanding
sesudahnya. Oleh karena itu perlu stimulasi fisik dan mental.
Ada
banyak hal yang diperoleh dengan memahami karakteristik anak usia dini antara
lain :
- Mengetahui hal-hal yang
dibutuhkan oleh anak yang bermanfaat bagi perkembangan hidupnya.
- Mengetahui tugas-tugas
perkembangan anak sehingga dapat memberikan stimulasi kepada anak agar
dapat melaksanakan tugas perkembangan dengan baik.
- Mengetahui bagaimana membimbing
proses belajar anak pada saat yang tepat sesuai dengan kebutuhannya.
- Menaruh harapan dan tuntutan
terhadap anak secara realistis.
- Mampu mengembangkan potensi
anak secara optimal sesuai dengan keadaan dan kemampuan.
3.1.
Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini
Anak usia dini (0 – 8 tahun) adalah individu yang sedang mengalami proses
pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Bahkan dikatakan sebagai
lompatan perkembangan karena itulah maka usia dini dikatakan sebagai golden
age (usia emas) yaitu usia yang sangat berharga dibanding usia-usia
selanjutnya. Usia tersebut merupakan fase kehidupan yang unik. Secara lebih
rinci akan diuraikan karakteristik anak usia dini sebagai berikut :
- Usia 0 – 1 tahun
Pada
masa bayi perkembangan fisik mengalami kecepatan luar biasa, paling cepat
dibanding usia selanjutnya. Berbagai kemampuan dan ketrampilan dasar dipelajari
anak pada usia ini. Beberapa karakteristik anak usia bayi dapat dijelaskan
antara lain :
- Mempelajari ketrampilan motorik
mulai dari berguling, merangkak, duduk, berdiri dan berjalan.
- Mempelajari ketrampilan
menggunakan panca indera, seperti melihat atau mengamati, meraba,
mendengar, mencium dan mengecap dengan memasukkan setiap benda ke mulutnya.
- Mempelajari komunikasi sosial.
Bayi yang baru lahir telah siap melaksanakan kontrak sosial dengan
lingkungannya. Komunikasi responsif dari orang dewasa akan mendorong dan
memperluas respon verbal dan non verbal bayi.
Berbagai
kemampuan dan ketrampilan dasar tersebut merupakan modal penting bagi anak
untuk menjalani proses perkembangan selanjutnya.
2.
Usia 2 – 3 tahun
Anak pada
usia ini memiliki beberapa kesamaan karakteristik dengan masa sebelumnya.
Secara fisik anak masih mengalami pertumbuhan yang pesat. Beberapa
karakteristik khusus yang dilalui anak usia 2 – 3 tahun antara lain :
- Anak sangat aktif
mengeksplorasi benda-benda yang ada di sekitarnya. Ia memiliki kekuatan
observasi yang tajam dan keinginan belajar yang luar biasa. Eksplorasi
yang dilakukan oleh anak terhadap benda-benda apa saja yang ditemui
merupakan proses belajar yang sangat efektif. Motivasi belajar anak pada
usia tersebut menempati grafik tertinggi dibanding sepanjang usianya bila
tidak ada hambatan dari lingkungan.
- Anak mulai mengembangkan
kemampuan berbahasa. Diawali dengan berceloteh, kemudian satu dua kata dan
kalimat yang belum jelas maknanya. Anak terus belajar dan berkomunikasi,
memahami pembicaraan orang lain dan belajar mengungkapkan isi hati dan
pikiran.
- Anak mulai belajar
mengembangkan emosi. Perkembangan emosi anak didasarkan pada bagaimana
lingkungan memperlakukan dia. Sebab emosi bukan ditemukan oleh bawaan
namun lebih banyak pada lingkungan.
3.usia 4 – 6 tahun
Anak
usia 4 – 6 tahun memiliki karakteristik antara lain :
- Berkaitan dengan perkembangan
fisik, anak sangat aktif melakukan berbagai kegiatan. Hal ini bermanfaat
untuk mengembangkan otot-otot kecil maupun besar.
- Perkembangan bahasa juga
semakin baik. Anak sudah mampu memahami pembicaraan orang lain dan mampu
mengungkapkan pikirannya dalam batas-batas tertentu.
- Perkembangan kognitif (daya
pikir) sangat pesat, ditunjukkan dengan rasa ingin tahu anak yang luar
biasa terhadap lingkungan sekitar. Hl itu terlihat dari seringnya anak
menanyakan segala sesuatu yang dilihat.
- Bentuk permainan anak masih
bersifat individu, bukan permainan sosial. Walaupun aktifitas bermain
dilakukan anak secara bersama.
4.Usia 7 – 8 tahun
Karakteristik
perkembangan anak usia 7 – 8 tahun antara lain :
- Perkembangan kognitif anak masih
berada pada masa yang cepat. Dari segi kemampuan, secara kognitif anak
sudah mampu berpikir bagian per bagian. Artinya anak sudah mampu berpikir
analisis dan sintesis, deduktif dan induktif.
- Perkembangan sosial anak mulai
ingin melepaskan diri dari otoritas orangtuanya. Hal ini ditunjukkan
dengan kecenderungan anak untuk selalu bermain di luar rumah bergaul
dengan teman sebaya.
- Anak mulai menyukai permainan
sosial. Bentuk permainan yang melibatkan banyak orang dengan saling
berinteraksi.
- Perkembangan emosi anak sudah
mulai berbentuk dan tampak sebagai bagian dari kepribadian anak. Walaupun
pada usia ini masih pada taraf pembentukan, namun pengalaman anak
sebenarnya telah menampakkan hasil.
3.2. Kondisi
Yang Mempengaruhi Anak Usia Dini
Banyak hal yang dapat mempengaruhi kondisi anak usia dini, secara garis besar
dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu :
- Faktor bawaan
- Faktor lingkungan
Pertama, faktor bawaan adalah faktor yang diturunkan dari kedua orangtuanya,
baik yang bersifat fisik maupun psikis. Faktor bawaan lebih dominan dari pihak
ayah daripada ibu atau sebaliknya. Faktor ini tidak dapat direkayasa oleh
orangtua yang menurunkan. Dan hanya ditentukan oleh waktu satu detik, yaitu
saat bertemunya sel sperma dan ovum. Oleh karena itu, saat ovulasi merupakan
saat paling berharga untuk sepanjang hidup manusia, karena pada saat itulah
diturunkan sifat bawaan yang akan terbawa sepanjang usia manusia.
Kedua, faktor lingkungan yaitu faktor yang berasal dari luar faktor bawaan, meliputi
seluruh lingkungan yang dilalui oleh anak. Lingkungan dapat dipisahkan menjadi
dua, yaitu lingkungan dalam kandungan dan lingkungan di luar kandungan.
Lingkungan dalam kandungan sangat penting bagi perkembangan anak. Karena
perkembangan janin dalam kandungan mengalami kecepatan luar biasa, lebih cepat
200.000 kali dibanding perkembangan sesudah lahir. Oleh karena itu lingkungan
yang positif dalam kandungan akan berpengaruh positif bagi perkembangan janin,
demikian juga sebaliknya.
Lingkungan di luar kandungan, juga besar pengaruhnya terhadap perkembangan anak
usia dini. Sebab anak menjadi bagaimana seorang anak sangat dipengaruhi oleh
bagaimana lingkungan memperlakukan dia. Lingkungan luar kandungan dibedakan
menjadi tiga hal yaitu :
- Lingkungan keluarga, yaitu
lingkungan yang dialami anak dalam berinteraksi dengan anggota keluarga
baik interaksi secara langsung maupun tidak langsung. Lingkungan keluarga
khususnya dialami anak usia 0 – 3 tahun. Usia ini menjadi landasan bagi
anak untuk melalui proses selanjutnya.
- Lingkungan masyarakat atau
lingkungan teman sebaya. Seiring bertambahnya usia, anak akan mencari
teman untuk berinteraksi dan bermain bersama. Kondisi teman sebaya turut
menentukan bagaimana anak jadinya.
- Lingkungan sekolah. Pada
umumnya anak akan memasuki lingkungan sekolah pada usia 4 – 5 tahun atau
bahkan yang 3 tahun. Lingkungan di sekolah besar pengaruhnya terhadap
perkembangan anak. Sekolah yang baik akan mampu berperan secara baik
dengan memberi kesempatan dan mendorong anak untuk mengaktualisasikan diri
sesuai dengan kemampuan yang sesungguhnya.
3.3. Pola
Perkembangan Anak Usia Dini
Perkembangan setiap anak memiliki pola yang sama, walaupun kecepatannya
berbeda. Setiap anak mengikuti pola yang dapat diramalkan dengan cara dan
kecepatannya sendiri. Sebagian anak berkembang dengan tertib tahap demi tahap,
langkah demi langkah. Namun sebagian yang lain mengalami kecepatan melonjak. Di
samping itu ada juga yang mengalami penyimpangan atau keterlambatan. Namun secara
umum setiap anak berkembang dengan mengikuti pola yang sama. Beberapa pola
tersebut antara lain :
- Perkembangan Fisik
Perkembangan fisik mengikuti hukum perkembangan yang disebut “cephalocaudal”
dan “proximodistal”. Hukum cephalocaudal menyatakan bahwa perkembangan
dimulai dari kepala kemudian menyebar ke seluruh tubuh sampai ke kaki.
Sedangkan hukum proximodistal menyatakan bahwa perkembangan bergerak dari pusat
sumbu ke ujung-ujungnya atau dari bagian yang dekat sumbu pusat tubuh ke bagian
yang lebih jauh.
2. Perkembangan bergerak dari tanggapan
umum menuju ke tanggapan khusus
Bayi pada awal perkembangan memberikan reaksi dengan menggerakkan seluruh
tubuh. Semakin lama ia akan mampu memberikan reaksi dalam bentuk gerakan
khusus. Demikian seterusnya dalam hal-hal lain.
3. Perkembangan berlangsung secara
berkesinambungan
Proses perkembangan diawali dari bertemunya sel sperma dan ovum yang disebut
ovulasi, dan terus secara berkesinambungan hingga kematian. Kadang perlahan,
kadang cepat, kadang maju terus, kadang sejenak mundur. Satu tahap perkembangan
menjadi landasan bagi tahap perkembangan selanjutnya. Tidak ada pengalaman anak
yang sia-sia atau hilang terhapus. Hanya tertutupi oleh pengalaman-pengalaman
berikutnya.
4. Terhadap periode keseimbangan dan
tidak keseimbangan
Setiap anak mengalami periode dimana ia merasa bahagia, mudah menyesuaikan diri
dan lingkungannya pun bersikap positif terhadapnya. Namun juga ada masa
ketidakseimbangan yang ditandai dengan kesulitan anak untuk menyesuaikan diri,
sulit diatur, emosi negatif dan sebagainya. Pola tersebut bila digambarkan
ibarat spiral yang bergerak melingkar dengan jangka waktu kurang lebih 6 bulan,
hingga akhirnya anak menemukan ketenangan dan jati diri.
5. Terhadap tugas perkembangan yang
harus dilalui anak dari waktu ke waktu
Tugas perkembangan adalah sesuatu yang
harus dilakukan atau dicapai oleh anak berdasarkan tahap usianya. Tugas
perkembangan bersifat khas, sesuai dengan tuntutan dan ukuran yang berlaku di
masyarakat. Misalnya bayi lahir dia akan melaksanakan tugas perkembangan
berguling, tengkurap, duduk, berdiri, berjalan, bermain dan seterusnya.
Kualitas dan kuantitas tugas perkembangan antara satu daerah berbeda dengan
daerah lain.
3.4. Cara
Belajar Anak Usia Dini
Anak pada usia dini (0 – 8 tahun) memiliki kemampuan belajar yang luar biasa.
Khususnya pada masa kanak-kanak awal. Keinginan anak untuk belajar menjadikan
ia aktif dan eksploratif. Anak belajar dengan seluruh panca inderanya untuk
dapat memahami sesuatu, dan dalam waktu singkat ia akan beralih ke hal lain
untuk dipelajari. Lingkungan lah yang kadang menjadikan anak terhambat dalam
mengembangkan kemampuan belajarnya. Bahkan seringkali lingkungan mematikan
keinginannya untuk bereksplorasi.
Cara
belajar anak mengalami perkembangan seiring dengan bertambahnya usia. Secara
garis besar dapat diuraikan cara belajar anak usia dini mulai dari awal
perkembangan.
1. Usia 0 – 1 tahun
Anak belajar dengan mengendalikan kemampuan panca inderanya. Yakni pendengaran,
penglihatan, penciuman, peraba dan perasa. Secara bertahap panca indera anak
difungsikan lebih sempurna. Hingga usia satu tahun anak ingin mempelajari apa
saja yang dilihat dengan mengarahkan seluruh panca indera. Hal itu nampak pada
aktivitas anak memasukkan segala macam benda ke dalam mulut sebagai bagian dari
proses belajar.
2. Usia 2 – 3 tahun
Anak melakukan proses belajar dengan lebih sungguh-sungguh. Ia memperhatikan
apa saja yang ada di lingkungannya untuk kemudian ditiru. Jadi cara belajar
anak yang utama pada usia ini adalah meniru. Meniru segala hal yang ia lihat
dan ia dengar. Selain itu perkembangan bahasa anak pada usia tersebut sudah
mulai berkembang. Anak mengembangkan kemampuan berbahasa juga dengan cara
meniru.
3. Usia 4 – 6 tahun
Kemampuan bahasa anak semakin baik. Begitu anak mampu berkomunikasi dengan baik
maka akan segera diikuti proses belajar anak dengan cara bertanya. Anak akan
menanyakan apa saja yang ia saksikan. Pertanyaan yang tiada putus. Saat
demikian kognisi anak berkembang pesat dan keinginan anak untuk belajar semakin
tinggi. Anak belajar melalui bertanya dan berkomunikasi.
4. Usia 7 – 8 tahun
Perkembangan anak dari berbagai aspek sudah semakin baik. Walau demikian proses
perkembangan anak masih terus berlanjut. Anak melakukan proses belajar dengan
cara yang semakin kompleks. Ia menggunakan panca inderanya untuk menangkap
berbagai informasi dari luar. Anak mulai mampu membaca dan berkomunikasi secara
luas. Hal itu menjadi bagian dari proses belajar anak.
BAB IV
Anak Usia Sekolah Dasar
Anak Usia
6-12 tahun adalah masa usia sekolah tingkat SD bagi anak yang normal.
Perkembangan anak masih sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga. Sebagai
orang tua harus mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anaknya terutama pada
usia ini karena pertumbuhan anak-anak sangat pesat yang harus diimbangi dengan
pemberian nutrisi dan gizi yang seimbang.
4.1. Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak :
1.Faktor genetik
- Faktor
keturunan — masa konsepsi
- Bersifat
tetap atau tidak berubah sepanjang kehidupan
- Menentukan
beberapa karakteristik seperti jenis kelamin, ras, rambut, warna
mata, pertumbuhan fisik, sikap tubuh dan beberapa keunikan psikologis
seperti temperamen
- Potensi
genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara
positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal.
2.Faktor eksternal / lingkungan
Mempengaruhi individu setiap hari mulai konsepsi sampai akhir hayatnya, dan
sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan. Faktor eksternal yang
cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan yang kurang
baik akan menghambatnya
- Keluarga
- Teman
sebaya
- Pengalaman
hidup
- Kesehatan
- Lingkungan
tempat tinggal
4.2 Pertumbuhan dan perkembangan anak usia 6-7 tahun :
- membaca
seperti mesin
- mengulangi
tiga angka mengurut ke belakang
- membaca
waktu untuk seperempat jam
- anak
wanita bermain dengan wanita
- anak
laki-laki bermain dengan laki-laki
- cemas
terhadap kegagalan
- kadang
malu atau sedih
- peningkatan
minat pada bidang spiritual
1.Fisik dan motorik
• BB 16-23,6
kg, TB 106,6-123,5 cm, pemunculan gigi insisor mandibula tengah, kehilangan
gigi pertama, sering kembali menggigit jari, lebih menyadari tangan sebagai
alat, suka menggambar, melukis dan mewarnai
2.Mental
Mengembangkan konsep angka, mengetahui pagi atau siang, mengetahui bagaimana
yang cantik, jelek dr wajah, mematuhi 3 perintah sekaligus, mengetahui tangan
kanan dan kiri, mendefinisikan objek umum spt garpu, kursi.
3.Adaptif
Dimeja, menggunakan pisau untuk mengoleskan mentega, pada saat bermain,
memotong, melipat, menjahit dengan kasar bila diberi jarum, mandi tanpa
pengawasan, tidur sendiri, membaca dari ingatan, dan menikmati permainan
mengeja.
4.Personal-sosial
Dapat berbagi dan bekerjasama dengan lebih baik, mempunyai cara sendiri untuk
melakukan sesuatu, sering cemburu terhadap adik, meningkatkan sosialisasi, dan
akan curang untuk menang.
4.2.1. Stimulasi motorik kasar yang bisa dilakukan:
– Bermain
kasti, basket, dan bola kaki. Kegiatan ini sangat baik untuk melatih keterampilan
menggunakan otot kaki. Anak juga belajar mengenal adanya aturan main,
sportivitas, kompetisi dan kerja sama dalam sebuah tim.
– Berenang.
Manfaat dari kegiatan ini sangat banyak karena melatih semua unsur motorik
kasar anak. Anak pun mendapat pelajaran dan latihan mengenai perbedaan berat
jenis maupun keseimbangan tubuh.
– Lompat
jauh. Manfaatnya hampir sama dengan bermain bola kaki dan sejenisnya. Pada
kegiatan ini anak mendapatkan point plus, yaitu prediksi terhadap
jarak.
– Lari
maraton. Manfaatnya mirip sekali dengan lompat jauh, hanya caranya yang
berbeda.
– Kegiatan outbound.
Seperti halnya berenang, maka dengan ber-outbound semua kemampuan motorik
kasar dilatih. Malahan anak bisa mendapatkan hal yang lain, seperti keberanian,
survival, dan kedekatan dengan Maha Pencipta serta kesadaran pentingnya menjaga
keharmonisan antara manusia dengan hewan dan tumbuhan.
4.2.2 Stimulasi motorik halus:
–
Menggambar, melukis dengan berbagai media.
–
Membuat kerajinan dari tanah liat.
–
Membuat seni kerajinan tangan, misalnya membuat boneka dari kain perca.
–
Bermain alat musik seperti gitar, biola, piano dan sebagainya.
4.2.3 Stimulasi Kognitif
Sebelum menstimulasi kognisi anak, orang tua harus mengetahui terlebih dulu
perkembangan kognitifnya sesuai usia. Misalnya, untuk anak balita perkembangan
kognitifnya berkaitan dengan perkembangan berbagai konsep dasar seperti
mengenal bau, warna, huruf, angka, serta pengetahuan umum yang akrab dengan
kehidupan sehari-harinya. Disamping itu perkembangan kognitif berkaitan erat
dengan perkembangan bahasa.
Aneka
kegiatan yang bisa orang tua lakukan guna menstimulasi kognisi anak adalah:
*
Mengadakan acara mendongeng.
*
Membaca buku cerita, baik dilakukan oleh orang tua atau si anak sendiri.
*
Menceritakan kembali suatu kisah dari buku cerita yang sudah dia baca.
* Sharing mengenai
pengalaman sehari-hari yang bisa dilakukan secara verbal, gambar atau tulisan.
*
Berdiskusi tentang suatu tema.
Kegiatan-kegiatan
tersebut sangat baik jika divariasikan dengan berbagai kegiatan, seperti
membuat kerajinan tangan atau games menarik.
Sedangkan
untuk anak 6-12 tahun, perkembangan kognitifnya sangat berkaitan dengan
kemampuan akademis yang dipelajari di sekolah. Akan tetapi kemampuan kognitif
bisa menjadi lebih optimal apabila otak kanan anak mendapat stimulasi. Anak
yang memiliki fungsi otak seimbang akan lebih responsif, kreatif, dan
fleksibel.
Kegiatan
yang bisa dilakukan oleh anak 6-12 tahun adalah:
– Ketika
mempelajari berbagai kemampuan akademis, guru dan orang tua hendaknya
memperhatikan kondisi anak. Contohnya, saat anak sudah terlihat bosan
seharusnya secara otomatis materi yang disampaikan pada anak dibumbui atau
diselingi dengan permainan atau hal jenaka yang bisa membuat anak tertantang
dan gembira. Ingat, selingan seperti ini sebaiknya tetap pada konteks
pembicaraan atau pembahasan.
–
Stimulasi otak kanan untuk menstimulasi kemampuan kognitif dapat dilakukan
melalui kegiatan music & movement (gerak dan lagu) atau dengan
memainkan alat musik tertentu. Bisa juga dengan melakukan kegiatan drama.
4.2.4. Stimulasi Afeksi
Stimulasi afeksi dilakukan untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal maupun
intrapersonal anak balita maupun 6-12 tahun. Manfaat utamanya adalah
mengembangkan rasa percaya diri, memupuk kemandirian, mengetahui dan menjalani
aturan, memahami orang lain, dan mau berbagi.
Cara
memberikan stimulasi bisa dengan cara sebagai berikut:
– Biarkan
anak melakukan sendiri apa yang bisa ia lakukan.
– Buatlah
kesepakatan tentang berbagai hal yang baik/boleh dan tidak, serta
konsekuensinya. Tentu dengan bahasa yang bisa dipahami anak.
– Berikan
penghargaan untuk hal-hal yang dapat dilakukanya dengan baik atau lebih baik
dari sebelumnya. Bisa juga ketika anak dapat mengikuti aturan (terutama pada
awal mula diterapkan suatu aturan).
– Berikan
konsekuensi negatif atau punishment terhadap tingkah laku anak yang
kurang baik atau tidak sesuai dengan aturan. Untuk hal ini perlu
mempertimbangkan usia anak.
– Berikan
perhatian untuk berbagai reaksi emosi anak. Contoh, saat dia sedih, gembira,
marah, berikanlah respons yang sesuai dengan kebutuhannya kala itu.
– Anak
difasilitasi untuk bermain peran.
– Biasakan
anak untuk mampu mengungkapkan perasaanya, baik secara verbal, tulisan, ataupun
gambar.
– Biasakan
mau berbagi dalam setiap kesempatan.
– Khusus
untuk anak 6-12 tahun, mulai perkenalkan dengan berbagai permainan dalam rangka
mengenalkan aturan main, sportivitas, dan kompetisi.
4.2.5 Stimulasi Spiritual
Sifat spiritual berkaitan erat dengan kesadaran adanya Sang Pencipta. Di
sinilah anak belajar tentang kewajiban tertentu sebagai hamba Tuhan sesuai
ajaran agama masing-masing. Selain itu kecerdasan spiritual juga berkaitan
dengan pemahaman bahwa ia menjadi bagian dari alam semesta. Di sini anak memiliki
peran tertentu supaya bisa hidup harmonis dengan seluruh makhluk Tuhan. Hal-hal
yang dapat dilakukan untuk menumbuhkembangkan kecerdasan spritual anak balita
dan usia 6-12 tahun adalah sebagai berikut:
* Lakukan
diskusi bahwa semua benda di sekitarnya ada yang menciptakan. Contoh, “Siapa
yang membuat meja ini?” anak menjawab, “Tukang kayu.” Lalu kita berikan lagi
pemahaman padanya “Apakah sama meja ini dengan tukang kayu yang membuatnya?”
*
Mengaitkan materi-materi pelajaran atau hal-hal di sekitarnya dengan kebesaran
Tuhan, terlebih pada pelajaran ilmu pasti.
*
Memutarkan video tentang berbagai hal yang menakjubkan di alam dengan kebesaran
Sang Pencipta.
*
Menceritakan kisah manusia-manusia pilihan Tuhan.
*
Berdiskusi tentang berbagai hal dan apa yang dapat anak lakukan sebagai manusia
yang memiliki kelebihan dibanding makhluk lain di muka bumi.
* Meminta
anak untuk membuat karangan tentang berbagai pengalamannya ketika sedang
mengalami kesulitan dan apa yang dia lakukan. Ketika menemukan jalan keluar dari
kesulitan tersebut, kaitkan dengan betapa Tuhan itu sangat pengasih dan
pemurah.
*
Memberikan pendidikan agama sekaligus membiasakannya menjalankan ibadah yang
dianjurkan dan diwajibkan.
Namun
tak hanya itu yang bisa menjamin anak menjadi cerdas. Lingkungan di mana anak
berada sangat memegang peranan penting untuk membentuknya menjadi anak yang
bahagia dan sehat.
Jika
bicara ideal, beginilah seharusnya lingkungan anak balita dan anak usia 6-12
tahun:
*
Dilengkapi dengan fasilitas yang mendukung, di antaranya arena bermain lengkap
dengan prasarananya.
*
Lingkungan harus ramah anak, sekaligus memberi jaminan atas kesehatan,
keamanan, kenyamanan, dan keleluasaan bergerak.
* Jika hal
tersebut tidak memungkinkan untuk diwujudkan, cukuplah membuat lingkungan yang
bisa menerima dan memberi toleransi pada anak dalam berkegiatan. Temanilah
selalu anak saat berekplorasi. Biarkan dia bebas memilih apa yang akan
dikerjakan sepanjang tetap dalam koridor keamanan, kesehatan, dan kebaikan.
* Jawablah
sebisa mungkin setiap pertanyaan anak. Jika tidak bisa, ajak anak bersama-sama
mencari tahu jawaban dari sumber yang bisa dipercaya, semisal mencarinya dalam
kamus atau bertanya pada pakarnya.
BAB V
Anak Usia Sekolah Menengah
5.1. Karakteristik Perkembangan Anak Usia Sekolah Menengah
1. Perkembangan fisik pada siswa usia
sekolah menengah ditandai dengan adanya perubahan bentuk, berat, dan tinggi
badan. Selain hal itu, perkembangan fisik pada usia ini ditandai pula dengan
munculnya ciri-ciri kelamin primer dan sekunder. Hormon testoterone dan
estrogen juga turut mempengaruhi perkembangan fisik.
2. Perkembangan intelektual siswa SLTP
ditandai dengan berkembangnya kemampuan berpikir formal operasional. Selain
itu, kemampuan mengingat dan memproses informasi cukup kuat berkembang pada
usia ini
3. Perkembangan pemikiran sosial dan
moralitas nampak pada sikap berkurangnya egosentrisme. Siswa SLTP dan SMU juga
telah mempunyai pemikiran politik dan keyakinan yang lebih rasional.
4. Terdapat berbagai mazhab atau aliran
dalam pendidikan yang membahas faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan
anak. Di antaranya adalah aliran nativisme, empirisme, dan konvergensi.
5. Papalia dan Olds (1992:7-8)
menyebutkan faktor internal dan eksternal yang telah memberi pengaruh besar
terhadap perkembangan anak. Urie Bronfenbrenner menyatakan ada 4 tingkatan
pengaruh lingkungan seperti, sistem mikro, meso dan exo yang membentuk pribadi
anak. Sedangkan pandangan konvensional menyatakan bahwa ada 3 faktor dominan
yang mempengaruhi perkembangan siswa SLTP dan SMU, yaitu pembawaan, lingkungan
dan waktu.
1. Secara garis besar, perbedaan
individu dikategorikan menjadi 2, yaitu perbedaan secara fisik, dan psikis.
Perbedaan secara psikis meliputi perbedaan dalam tingkat intelektualitas,
kepribadian, minat, sikap dan kebiasaan belajar.
2. Dalam pandangan yang lain, perbedaan
individual siswa sekolah menengah dibedakan berdasarkan perbedaan dalam kemampuan
potensial dan kemampuan nyata. Kemampuan nyata dapat disebut sebagai prestasi
belajar.
4. Gage dan Berlinier (1984:165)
mempunyai pandangan tentang kepribadian sebagai berikut. Personality is the
integration of all of persons traits abilities, motives as well as his or her
temperament, attitudes, opinios, beliefs, emotional responses, cognitive
styles, characters and morals.
5. Menurut Murray, kebutuhan individu
dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu viscerogenic dan psychogenic. Kemudian
kebutuhan psychogenic dibagi lagi menjadi 20 kebutuhan.
6. Kebutuhan yang cenderung dominan
pada siswa sekolah menengah berdasarkan 20 kebutuhan menurut konsep Murray,
adalah seperti ini:
7.
Sex.
BAB VI
Tugas – Tugas Perkembangan Anak Usia
Dini
..Tugas perkembangan merupakan suatu tugas yang muncul dalam
suatu periode tertentu dalam kehidupan individu. Tugas tersebut harus dikuasai
dan diselesaikan oleh individu, sebab tugas perkembangan ini akan sangat
mempengaruhi pencapaian perkembangan pada masa perkembangan berikutnya. Menurut
Havighurst, jika seorang individu gagal menyelesaikan tugas perkembangan pada
satu fase tertentu, maka ia akan mengalami kegagalan dalam pencapaian
tugas perkembangan pada masa berikutnya.Pada setiap masa perkembangan individu,
ada berbagai tugas perkembangan yang harus dikuasai, adapun tugas perkembangan
masa kanak-kanak menurut Carolyn Triyon dan J. W. Lilienthal (Hildebrand, 1986
: 45) adalah sebagai berikut :
a)
Berkembang menjadi pribadi yang mandiri. Anak belajar untuk berkembang menjadi
pribadi yang bertanggung jawab dan dapat memenuhi segala kebutuhannya sendiri
sesuai dengan tingkat perkembangannya di usia Taman Kanak-kanak.
b) Belajar
memberi, berbagi dan memperoleh kasih sayang. Pada masa Taman Kanak-kanak
ini anak belajar untuk dapat hidup dalam lingkungan yang lebih luas yang tidak
hanya terbatas pada lingkungan keluarga saja, dalam masa ini anak belajar untuk
dapat saling memberi dan berbagi dan belajar memperoleh kasih sayang dari
sesama dalam lingkungannya.
c) Belajar
bergaul dengan anak lain. Anak belajar mengembangkan kemampuannya untuk dapat
bergaul dan berinteraksi dengan anak lain dalam lingkungan di luar lingkungan
keluarga.
d)
Mengembangkan pengendalian diri. Pada masa ini anak belajar untuk bertingkah
laku sesuai dengan tuntutan lingkungannya. Anak belajar untuk mampu
mengendalikan dirinya dalam berhubungan dengan orang lain. Pada masa ini anak
juga perlu menyadari bahwa apa yang dilakukannya akan menimbulkan konsekuensi
yang harus dihadapinya.
e) Belajar
bermacam-macam peran orang dalam masyarakat. Anak belajar bahwa dalam kehidupan
bermasyarakat ada berbagai jenis pekerjaan yang dapat dilakukan yang dapat
menghasilkan sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhannya dan dapat menghasilkan
jasa bagi orang lain. Contoh, seorang dokter mengobati orang sakit, guru
mengajar anak-anak di kelas, pak polisi mengatur lalu lintas, dan lain
sebagainya.
f) Belajar
untuk mengenal tubuh masing-masing. Pada masa ini anak perlu mengetahui
berbagai anggota tubuhnya, apa fungsinya dan bagaimana penggunaannya. Contoh,
mulut untuk makan dan berbicara, telinga untuk mendengar, mata untuk melihat
dan sebagainya.
g) Belajar
menguasai ketrampilan motorik halus dan kasar. Anak
belajar mengkoordinasikan otot-otot yang ada pada tubuhnya, baik otot
kasar maupun otot halus. Kegiatan yang memerlukan koordinasi otot kasar
diantaranya berlari, melompat, menendang, menangkap bola dan sebagainya.
Sedangkan kegiatan yang memerlukan koordinasi otot halus adalah pekerjaan
melipat, menggambar, meronce dan sebagainya.
h) Belajar
mengenal lingkungan fisik dan mengendalikan. Pada masa ini diharapkan anak
mampu mengenal benda-benda yang ada di lingkungan, dan dapat menggunakannya
secara tepat. Contoh, anak belajar mengenal ciri-ciri benda berdasarkan ukuran,
bentuk, dan warnanya. Selain dari itu, anak dapat membandingkan satu benda
dengan benda lain berdasarkan ciri-ciri yang dimiliki benda tersebut.
i) Belajar
menguasai kata-kata baru untuk memahami anak/orang lain. Anak belajar menguasai
berbagai kata-kata baru baik yang berkaitan dengan benda-benda yang ada di
sekitarnya, maupun berinteraksi dengan lingkungannya.Contoh, anak dapat
menyebutkan nama suatu benda, atau mengajak anak lain untuk bermain, dan
sebagainya.
j)
Mengembangkan perasaan positif dalam berhubungan dengan lingkungan. Pada masa
ini anak belajar mengembangkan perasaan kasih sayang terhadap apa-apa yang ada
dalam lingkungan, seperti pada teman sebaya, saudara, binatang kesayangan atau
pada benda-benda yang dimilikinya.
Pada masa pendidikan anak usia dini (PAUD) maupun masa taman
kanak-kanak anak akan cenderung melakukan pembelajaran seperti yang telah
disebutkan diatas. Untuk itulah sebagai pendidik anda harus bisa menyesuaikan
tugas-tugas dalam periode perkembangan anak ini, hal itu dimaksudkan agar
proses pembelajaran anak bisa berjalan efektif dan efisien.
Pada dasarnya anak selalu mengalami perkembangan. Perkembangan akan menjadi
media bagi anak untuk belajar dan mengenal lingkungannya. Pada artikel
selanjutnya kita akan membahas tentang perkembangan kognitif
yang terjadi pada anak di masa prasekolah. paud, anak, usia dini, anak usia dini, pendidikan anak
usia dini, taman kanak-kanak, sekolah, perkembangan, pertumbuhan, tugas-tugas,
Tugas-tugas Perkembangan Anak Usia Dini, prinsip-prinsip Perkembangan Anak Usia
Dini, aspek-aspek Perkembangan Anak Usia Dini
BAB VII
Kharakteristik Anak Usia Sekolah Dasar
Masa usia sekolah dasar sebagai mesa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari
usia enam tahun hingga kira-kira usia sebelas tahun atau dua belas tahun.
Karakteristik utama siswa sekolah dasar adalah mereka menampilkan
perbedaan-perbedaan individual dalam banyak segi dan bidang, di antaranya,
perbedaan dalam intelegensi, kemampuan dalam kognitif dan bahasa, perkembangan
kepribadian dan perkembangan fisik anak.
Menurut Erikson perkembangan psikososial pada usia enam sampai pubertas, anak mulai memasuki dunia pengetahuan dan dunia kerja yang luas. Peristiwa penting pada tahap ini anak mulai masuk sekolah, mulai dihadapkan dengan tekhnologi masyarakat, di samping itu proses belajar mereka tidak hanya terjadi di sekolah.
Sedang menurut Thornburg (1984) anak sekolah dasar merupakan individu yang sedang berkembang, barang kali tidak perlu lagi diragukan keberaniannya. Setiap anak sekolah dasar sedang berada dalam perubahan fisik maupun mental mengarah yang lebih baik. Tingkah laku mereka dalam menghadapi lingkungan sosial maupun non sosial meningkat. Anak kelas empat, memilki kemampuan tenggang rasa dan kerja sama yang lebih tinggi, bahkan ada di antara mereka yang menampakan tingkah laku mendekati tingkah laku anak remaja permulaan.
Menurut Piaget ada lima faktor yang menunjang perkembangan intelektual yaitu : kedewasaan (maturation), pengalaman fisik (physical experience), penyalaman logika matematika (logical mathematical experience), transmisi sosial (social transmission), dan proses keseimbangan (equilibriun) atau proses pengaturan sendiri (self-regulation ) Erikson mengatakan bahwa anak usia sekolah dasar tertarik terhadap pencapaian hasil belajar.
Mereka mengembangkan rasa percaya dirinya terhadap kemampuan dan pencapaian yang baik dan relevan. Meskipun anak-anak membutuhkan keseimbangan antara perasaan dan kemampuan dengan kenyataan yang dapat mereka raih, namun perasaan akan kegagalan atau ketidakcakapan dapat memaksa mereka berperasaan negatif terhadap dirinya sendiri, sehingga menghambat mereka dalam belajar. Piaget mengidentifikasikan tahapan perkembangan intelektual yang dilalui anak yaitu : (a) tahap sensorik motor usia 0-2 tahun, (b) tahap operasional usia 2-6 tahun, (c) tahap opersional kongkrit usia 7-11 atau 12 tahun, (d) tahap operasional formal usia 11 atau 12 tahun ke atas.
Berdasarkan uraian di atas, siswa sekolah dasar berada pada tahap operasional kongkrit, pada tahap ini anak mengembangkan pemikiran logis, masih sangat terikat pada fakta-fakta perseptual, artinya anak mampu berfikir logis, tetapi masih terbatas pada objek-objek kongkrit, dan mampu melakukan konservasi.
Bertitik tolak pada perkembangan intelektual dan psikososial siswa sekolah dasar, hal ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai karakteristik sendiri, di mana dalam proses berfikirnya, mereka belum dapat dipisahkan dari dunia kongkrit atau hal-hal yang faktual, sedangkan perkembangan psikososial anak usia sekolah dasar masih berpijak pada prinsip yang sama di mana mereka tidak dapat dipisahkan dari hal-hal yang dapat diamati, karena mereka sudah diharapkan pada dunia pengetahuan.
Pada usia ini mereka masuk sekolah umum, proses belajar mereka tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah, karena mereka sudah diperkenalkan dalam kehidupan yang nyata di dalam lingkungan masyarakat. Nasution (1992) mengatakan bahwa masa kelas tinggi sekolah dasar mempunyai beberapa sifat khas sebagai berikut : (1) adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang kongkrit, (2) amat realistik, ingin tahu dan ingin belajar, (3) menjelang akhir masa ini telah ada minat terhadap hal-hal dan mata pelajaran khusus, oleh ahli yang mengikuti teori faktor ditaksirkan sebagai mulai menonjolnya faktor-faktor, (4) pada umumnya anak menghadap tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha menyelesaikan sendiri, (5) pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi sekolah, (6) anak pada masa ini gemar membentuk kelompok sebaya, biasanya untuk bermain bersama-sama.
Seperti dikatakan Darmodjo (1992) anak usia sekolah dasar adalah anak yang sedang mengalami perrtumbuhan baik pertumbuhan intelektual, emosional maupun pertumbuhan badaniyah, di mana kecepatan pertumbuhan anak pada masing-masing aspek tersebut tidak sama, sehingga terjadi berbagai variasi tingkat pertumbuhan dari ketiga aspek tersebut. Ini suatu faktor yang menimbulkan adanya perbedaan individual pada anak-anak sekolah dasar walaupun mereka dalam usia yang sama.
Dengan karakteristik siswa yang telah diuraikan seperti di atas, guru dituntut untuk dapat mengemas perencanaan dan pengalaman belajar yang akan diberikan kepada siswa dengan baik, menyampaikan hal-hal yang ada di lingkungan sekitar kehidupan siswa sehari-hari, sehingga materi pelajaran yang dipelajari tidak abstrak dan lebih bermakna bagi anak. Selain itu, siswa hendaknya diberi kesempatan untuk pro aktif dan mendapatkan pengalaman langsung baik secara individual maupun dalam kelompok.
Menurut Erikson perkembangan psikososial pada usia enam sampai pubertas, anak mulai memasuki dunia pengetahuan dan dunia kerja yang luas. Peristiwa penting pada tahap ini anak mulai masuk sekolah, mulai dihadapkan dengan tekhnologi masyarakat, di samping itu proses belajar mereka tidak hanya terjadi di sekolah.
Sedang menurut Thornburg (1984) anak sekolah dasar merupakan individu yang sedang berkembang, barang kali tidak perlu lagi diragukan keberaniannya. Setiap anak sekolah dasar sedang berada dalam perubahan fisik maupun mental mengarah yang lebih baik. Tingkah laku mereka dalam menghadapi lingkungan sosial maupun non sosial meningkat. Anak kelas empat, memilki kemampuan tenggang rasa dan kerja sama yang lebih tinggi, bahkan ada di antara mereka yang menampakan tingkah laku mendekati tingkah laku anak remaja permulaan.
Menurut Piaget ada lima faktor yang menunjang perkembangan intelektual yaitu : kedewasaan (maturation), pengalaman fisik (physical experience), penyalaman logika matematika (logical mathematical experience), transmisi sosial (social transmission), dan proses keseimbangan (equilibriun) atau proses pengaturan sendiri (self-regulation ) Erikson mengatakan bahwa anak usia sekolah dasar tertarik terhadap pencapaian hasil belajar.
Mereka mengembangkan rasa percaya dirinya terhadap kemampuan dan pencapaian yang baik dan relevan. Meskipun anak-anak membutuhkan keseimbangan antara perasaan dan kemampuan dengan kenyataan yang dapat mereka raih, namun perasaan akan kegagalan atau ketidakcakapan dapat memaksa mereka berperasaan negatif terhadap dirinya sendiri, sehingga menghambat mereka dalam belajar. Piaget mengidentifikasikan tahapan perkembangan intelektual yang dilalui anak yaitu : (a) tahap sensorik motor usia 0-2 tahun, (b) tahap operasional usia 2-6 tahun, (c) tahap opersional kongkrit usia 7-11 atau 12 tahun, (d) tahap operasional formal usia 11 atau 12 tahun ke atas.
Berdasarkan uraian di atas, siswa sekolah dasar berada pada tahap operasional kongkrit, pada tahap ini anak mengembangkan pemikiran logis, masih sangat terikat pada fakta-fakta perseptual, artinya anak mampu berfikir logis, tetapi masih terbatas pada objek-objek kongkrit, dan mampu melakukan konservasi.
Bertitik tolak pada perkembangan intelektual dan psikososial siswa sekolah dasar, hal ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai karakteristik sendiri, di mana dalam proses berfikirnya, mereka belum dapat dipisahkan dari dunia kongkrit atau hal-hal yang faktual, sedangkan perkembangan psikososial anak usia sekolah dasar masih berpijak pada prinsip yang sama di mana mereka tidak dapat dipisahkan dari hal-hal yang dapat diamati, karena mereka sudah diharapkan pada dunia pengetahuan.
Pada usia ini mereka masuk sekolah umum, proses belajar mereka tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah, karena mereka sudah diperkenalkan dalam kehidupan yang nyata di dalam lingkungan masyarakat. Nasution (1992) mengatakan bahwa masa kelas tinggi sekolah dasar mempunyai beberapa sifat khas sebagai berikut : (1) adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang kongkrit, (2) amat realistik, ingin tahu dan ingin belajar, (3) menjelang akhir masa ini telah ada minat terhadap hal-hal dan mata pelajaran khusus, oleh ahli yang mengikuti teori faktor ditaksirkan sebagai mulai menonjolnya faktor-faktor, (4) pada umumnya anak menghadap tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha menyelesaikan sendiri, (5) pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi sekolah, (6) anak pada masa ini gemar membentuk kelompok sebaya, biasanya untuk bermain bersama-sama.
Seperti dikatakan Darmodjo (1992) anak usia sekolah dasar adalah anak yang sedang mengalami perrtumbuhan baik pertumbuhan intelektual, emosional maupun pertumbuhan badaniyah, di mana kecepatan pertumbuhan anak pada masing-masing aspek tersebut tidak sama, sehingga terjadi berbagai variasi tingkat pertumbuhan dari ketiga aspek tersebut. Ini suatu faktor yang menimbulkan adanya perbedaan individual pada anak-anak sekolah dasar walaupun mereka dalam usia yang sama.
Dengan karakteristik siswa yang telah diuraikan seperti di atas, guru dituntut untuk dapat mengemas perencanaan dan pengalaman belajar yang akan diberikan kepada siswa dengan baik, menyampaikan hal-hal yang ada di lingkungan sekitar kehidupan siswa sehari-hari, sehingga materi pelajaran yang dipelajari tidak abstrak dan lebih bermakna bagi anak. Selain itu, siswa hendaknya diberi kesempatan untuk pro aktif dan mendapatkan pengalaman langsung baik secara individual maupun dalam kelompok.
7.1. Karakteristiknya antara
lain:
1.Senang
bermain,
Maksudnya dalam usia yang masih dini anak cenderung untuk ingin bermain dan
menghabiskan waktunya hanya untuk bermain karena anak masih polos yang dia tahu
hanya bermain maka dari itu agar tidak megalami masa kecil kurang bahagia anak
tidak boleh dibatasi dalam bermain. Sebagai calon guru SD kita harus mengetahui
karakter anak sehingga dalam penerapan metode atau model pembelajaran bisa sesuai
dan mencapai sasaran, misalnya model pembelajran yang santai namun serius, bermain
sambil belajar, serta dalam menyusun jadwal pelajaran yang berat(IPA, matematika
dll.) dengan diselingi pelajaran yang ringan(keterampilan, olahraga dll.)
Maksudnya dalam usia yang masih dini anak cenderung untuk ingin bermain dan
menghabiskan waktunya hanya untuk bermain karena anak masih polos yang dia tahu
hanya bermain maka dari itu agar tidak megalami masa kecil kurang bahagia anak
tidak boleh dibatasi dalam bermain. Sebagai calon guru SD kita harus mengetahui
karakter anak sehingga dalam penerapan metode atau model pembelajaran bisa sesuai
dan mencapai sasaran, misalnya model pembelajran yang santai namun serius, bermain
sambil belajar, serta dalam menyusun jadwal pelajaran yang berat(IPA, matematika
dll.) dengan diselingi pelajaran yang ringan(keterampilan, olahraga dll.)
2.Senang bergerak,
Anak senang bergerak maksudnya dalam masa pertumbuhan fisik dan mentalnya anak
menjadi hiperaktif lonjak kesana kesini bahkan seperti merasa tidak capek mereka
tidak mau diam dan duduk saja menurut pengamatan para ahli anak duduk tenang
paling lama sekitar 30 menit. Oleh karena itu, kita sebagai calon guru hendaknya
merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak.
Mungkin dengan permaianan, olahraga dan lain sebagainya.
Anak senang bergerak maksudnya dalam masa pertumbuhan fisik dan mentalnya anak
menjadi hiperaktif lonjak kesana kesini bahkan seperti merasa tidak capek mereka
tidak mau diam dan duduk saja menurut pengamatan para ahli anak duduk tenang
paling lama sekitar 30 menit. Oleh karena itu, kita sebagai calon guru hendaknya
merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak.
Mungkin dengan permaianan, olahraga dan lain sebagainya.
3.Senang bekerja dalam kelompok
Anak senang bekerja dalam kelompok maksudnya sebagai seorang manusia,
anak-anak juga mempunyai insting sebagai makhluk social yang bersosialisasi dengan
orang lain terutama teman sebayanya, terkadang mereka membentuk suatu kelomppok
tertentu untuk bermain. Dalam kelompok tersebut anak dapat belajar memenuhi aturan
aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya
dilingkungan, belajar menerimanya tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang
lain secara sehat (sportif), mempelajarai olah raga, belajar keadilan dan
demokrasi. Hal ini dapat membawa implikasi buat kita sebagai calon guru agar
menetapkan metode atau model belajar kelompok agar anak mendapatkan pelajaran
seperti yang telah disebutkan di atas, guru dapat membuat suatu kelompok kecil
misalnya 3-4 anak agar lebih mudah mengkoordinir karena terdapat banyak perbedaan
pendapat dan sifat dari anak-anak tersebut dan mengurangi pertengkaran antar anak
dalam satu kelompok. Kemudian anak tersebut diberikan tugas untuk mengerjakannya
bersama, disini anak harus bertukar pendapat anak menjadi lebih menghargai
pendapat orang lain juga.
Anak senang bekerja dalam kelompok maksudnya sebagai seorang manusia,
anak-anak juga mempunyai insting sebagai makhluk social yang bersosialisasi dengan
orang lain terutama teman sebayanya, terkadang mereka membentuk suatu kelomppok
tertentu untuk bermain. Dalam kelompok tersebut anak dapat belajar memenuhi aturan
aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya
dilingkungan, belajar menerimanya tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang
lain secara sehat (sportif), mempelajarai olah raga, belajar keadilan dan
demokrasi. Hal ini dapat membawa implikasi buat kita sebagai calon guru agar
menetapkan metode atau model belajar kelompok agar anak mendapatkan pelajaran
seperti yang telah disebutkan di atas, guru dapat membuat suatu kelompok kecil
misalnya 3-4 anak agar lebih mudah mengkoordinir karena terdapat banyak perbedaan
pendapat dan sifat dari anak-anak tersebut dan mengurangi pertengkaran antar anak
dalam satu kelompok. Kemudian anak tersebut diberikan tugas untuk mengerjakannya
bersama, disini anak harus bertukar pendapat anak menjadi lebih menghargai
pendapat orang lain juga.
4.Senang merasakan/ melakukan
sesuatu secara langsung.
Ditinjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasional
konkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep
konsep baru dengan konsep-konsep lama. Jadi dalam pemahaman anak SD semua materi
atau pengetahuan yang diperoleh harus dibuktikan dan dilaksanakan sendiri agar
mereka bisa paham dengan konsep awal yang diberikan. Berdasarkan pengalaman ini,
siswa membentuk konsep-konsep tentang angka, ruang, waktu, fungsi-fungsi badan,
pera jenis kelamin, moral, dan sebagainya. Dengan demikian kita sebagai calon guru
hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung
dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh anak akan lebih memahami tentang arah
mata angina, dengan cara membawa anak langsung keluar kelas, kemudian menunjuk
langsung setiap arah angina, bahkan dengan sedikit menjulurkan lidah akan
diketahui secara persis dari arah mana angina saat itu bertiup.
Ditinjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasional
konkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep
konsep baru dengan konsep-konsep lama. Jadi dalam pemahaman anak SD semua materi
atau pengetahuan yang diperoleh harus dibuktikan dan dilaksanakan sendiri agar
mereka bisa paham dengan konsep awal yang diberikan. Berdasarkan pengalaman ini,
siswa membentuk konsep-konsep tentang angka, ruang, waktu, fungsi-fungsi badan,
pera jenis kelamin, moral, dan sebagainya. Dengan demikian kita sebagai calon guru
hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung
dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh anak akan lebih memahami tentang arah
mata angina, dengan cara membawa anak langsung keluar kelas, kemudian menunjuk
langsung setiap arah angina, bahkan dengan sedikit menjulurkan lidah akan
diketahui secara persis dari arah mana angina saat itu bertiup.
5.Anak cengeng
Pada umur anak SD, anak masih cengeng dan manja. Mereka selalu ingin
diperhatikan dan dituruti semua keinginannya mereka masih belum mandiri dan harus
selalu dibimbing. Di sini sebagai calon guru SD maka kita harus membuat metode
pembelajaran tutorial atau metode bimbingan agar kita dapat selalu membmbing dan
mengarahkan anak, membentuk mental anak agar tidak cengeng.
Pada umur anak SD, anak masih cengeng dan manja. Mereka selalu ingin
diperhatikan dan dituruti semua keinginannya mereka masih belum mandiri dan harus
selalu dibimbing. Di sini sebagai calon guru SD maka kita harus membuat metode
pembelajaran tutorial atau metode bimbingan agar kita dapat selalu membmbing dan
mengarahkan anak, membentuk mental anak agar tidak cengeng.
6.Anak sulit memahami isi
pembicaraan orang lain.
Pada pendidikan dasar yaitu SD, anak susah dalam memahami apa yang diberikan
guru, disini guru harus dapat membuat atau menggunakan metode yang tepat misalnya
dengan cara metode ekperimen agar anak dapat memahami pelajaran yang diberikan
dengan menemukan sendiri inti dari pelajaran yang diberikan sedangkan dengan
ceramah yang dimana guru Cuma berbicara didepan membuat anak malah tidak pmemahami
isi dari apa yang dibicarakan oleh gurunya.
Pada pendidikan dasar yaitu SD, anak susah dalam memahami apa yang diberikan
guru, disini guru harus dapat membuat atau menggunakan metode yang tepat misalnya
dengan cara metode ekperimen agar anak dapat memahami pelajaran yang diberikan
dengan menemukan sendiri inti dari pelajaran yang diberikan sedangkan dengan
ceramah yang dimana guru Cuma berbicara didepan membuat anak malah tidak pmemahami
isi dari apa yang dibicarakan oleh gurunya.
7.Senang diperhatikan
Di dalam suatu interaksi social anak biasanya mencari perhatian teman atau
gurunya mereka senang apabila orang lain memperhatikannya, dengan berbagai cara
dilakukan agar orang memperhatikannya. Di sini peran guru untuk mengarahkan
perasaan anak tersebut dengan menggunakan metode tanya jawab misalnya, anak yang
ingin diperhikan akan berusaha menjawab atau bertantya dengan guru agar anak lain
beserta guru memperhatikannya.
Di dalam suatu interaksi social anak biasanya mencari perhatian teman atau
gurunya mereka senang apabila orang lain memperhatikannya, dengan berbagai cara
dilakukan agar orang memperhatikannya. Di sini peran guru untuk mengarahkan
perasaan anak tersebut dengan menggunakan metode tanya jawab misalnya, anak yang
ingin diperhikan akan berusaha menjawab atau bertantya dengan guru agar anak lain
beserta guru memperhatikannya.
8.Senang meniru
Dalam kehidupan sehari hari anak mencari suatu figur yang sering dia lihat
dan dia temui. Mereka kemudian menirukan apa yang dilakukan dan dikenakan orang
yang ingin dia tiru tersebut. Dalam kehidupan nyata banyak anak yang terpengaruh
acara televisi dan menirukan adegan yang dilakukan disitu, misalkan acara smack
down yang dulu ditayangkan sekarang sudah ditiadakan karena ada berita anak yang
melakukan gerakan dalam smack down pada temannya, yang akhirnya membuat temannya
terluka. Namun sekarang acara televisi sudah dipilah-pilah utuk siapa acara itu
ditonton sebagai calon guru kita hanya dapat mengarahkan orang tua agar selalu
mengawasi anaknya saat dirumah.
Contoh lain yang biasanya ditiru adalah seorang guru yang menjadi pusat perhatian
dari anak didiknya. Kita sebagai calon guru harus menjaga tindakan, sikap,
perkataan, penampilan yang bagus dan rapi agar dapat memberikan contoh yang baik
untuk anak didik kita.
Dalam kehidupan sehari hari anak mencari suatu figur yang sering dia lihat
dan dia temui. Mereka kemudian menirukan apa yang dilakukan dan dikenakan orang
yang ingin dia tiru tersebut. Dalam kehidupan nyata banyak anak yang terpengaruh
acara televisi dan menirukan adegan yang dilakukan disitu, misalkan acara smack
down yang dulu ditayangkan sekarang sudah ditiadakan karena ada berita anak yang
melakukan gerakan dalam smack down pada temannya, yang akhirnya membuat temannya
terluka. Namun sekarang acara televisi sudah dipilah-pilah utuk siapa acara itu
ditonton sebagai calon guru kita hanya dapat mengarahkan orang tua agar selalu
mengawasi anaknya saat dirumah.
Contoh lain yang biasanya ditiru adalah seorang guru yang menjadi pusat perhatian
dari anak didiknya. Kita sebagai calon guru harus menjaga tindakan, sikap,
perkataan, penampilan yang bagus dan rapi agar dapat memberikan contoh yang baik
untuk anak didik kita.
BAB VIII
Kharakteristik Anak Usia Sekolah
Menengah
8.1. Karakteristik Aspek-aspek Perkembangan Remaja
Masa remaja merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan
siswa, dan merupakan masa transisi yang diarahkan kepada perkembangan masa
dewasa yang sehat (Konopka dalam Pikunas, 1976; Kaczman dan
Riva, 1996).
Ditilik dari segi usia, siswa SLTP
(SMP dan MTS) dan SLTA termasuk fase atau masa remaja. Fase remaja merupakan
salah satu periode dalam rentang kehidupan siswa. Menurut Konopka (Pikunas,
1976) fase ini meliputi:
1.
Remaja awal: 12-15 tahun
2.
Remaja madya: 15-18 tahun
3.
Remaja akhir: 19-22 tahun.
Jika dilihat dari klasifikasi usia
tersebut, maka siswa sekolah menengah termasuk kedalam kategori awal dan madya.
Untuk memahami lebih lanjut tentang remaja, pada uraian berikut dapat
dipaparkan mengenai karakteristik aspek-aspek perkembangannya.
1. Aspek Fisik
Secara fisik, masa remaja ditandai dengan amatngnya organ-organ seksual.
Remaja pria mengalami pertumbuhan pada organ testis, penis pembuluh mani, dan
kelenjar prostat. Matangnya organ-organ ini memungkinkan remaja pria mengalami
mimpi basah. Sementara remaja wanita ditandai dengan tumbuhnya rahim, vagina
dan ovarium. Ovarium menghasilkan ova (telur) dan mengeluarkan hormon-hormon
yang diperlukan untuk kehamilan, dan perkembangan seks sekunder. Matangnya
organ-organ seksual memungkinkan wanita remaja untuk mengalami
menstruasi.
Fase remaja ini merupakan masa terjadinya banjir hormon, yaitu zat-zat kimia
yang sangat kuat, yang disekresikan oleh kelenjar-kelenjar endoktrin dan dibawa
keseluruh tubuh oleh aliran darah. Konsentrasi hormon-hormon tertentu meningkat
secara dramatis selama masa remaja, seperti hormon testosteron dan estradiol.
2. Aspek Intelektual (kognitif)
Masa remaja sudah mencapai tahap berkembangan berpikit operional formal.
Tahap ini ditandai dengan kemampuan berfikir abstrak (seperti memecahkan
persamaan aljabar), idealistik (seperti berpikir tentang ciri-ciri ideal
dirinya, orang lain dan masyarakat) dan logis (seperti menyusun rencana untuk
memecahkan masalah).
Pada masa ini terjadi reorganisasi lingkaran syaraf Lobe Frontal yang
berfungsi sebagai kegiatan kognitif tingkat tinggi yaitu kemampuan merumuskan
perencanaan dan pengambilan keputusan.
3, Aspek Emosi
Masa remaja merupakan puncak emosionalitas. Pertumnbuhan organ-organ seksual
mempengaruhi emosi atau perasaan-persaan baru yang belum dialami sebelumnya,
seperti: rasa cinta, rindu dan keinginan untuk berkenalan lebih intim denagn
lawan jenis.
Dalam budaya Amerika, periode ini dipandang sebagai masa Strom & Stress,
frustasi dan penderitaan, konflik dan krisis penyesuaian, mimpi dan melamun
tentang cinta, dan perasaan terealisasi dan kehidupan sosial budaya orang
dewasa. (Pinukas, 1976).
4. Aspek Sosial
Pada masa ini perkembangan sosial cognition, yaitu keampuan memahami orang
lain. Kemampuan ini mendorong remaja untuk menjalin hubungan sosial dengan
teman sebaya. Masa ini juga ditandai dengan berkembangnya sikap confomity
(konformitas), yaitu kecenderungan untuk meniru, mengikuti, opini,
pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran (hobby) atau keinginan orang lain.
Perkembangan konfomitas ini dapat berdampak positif atau negatif bagi remaja
sendiri, tergantung kepada siapa atau kelompok mana dia melakukan
konformitasnya.
Terkait dengan hali ini, Luskin Pikunas (1976;257-259) mengemukskan
pendapat McCandles dan Evans yang berpendapat bahwa masa remaja
akhir ditandai oleh keinginannya untuk tumbuh dan berkembang secara matang agar
diterima oleh teman sebaya, orang dewasa dan budaya.
5. Aspek Kepribadian
Masa remaja merupakan saat berkembangnya self-identity (kesadaran
akan identitas atau jati dirinya). Remaja dihadapkan kepada berbagai
pertanyaan: ”who am i, man ana, siapa saya?” (keberadaan diriya), akan menjadi
apa saya? Apa peran saya dan mengapa saya harus beragama?.
Apabila remaja berhasil memahami dirinya,
peran-perannya dalam kehidupan social, dan memahami makana hidup beragama, maka
dia akan menemukan jati dirinya, dalam arti dia akan memiliki kepribadian yang
sehat. Sebaiknya apabila gagal, maka dia akan mengalami kebingungan atau
kekacauan (confusion) sehingga cenderung memiliki kepribadian yang tidak sehat.
6. Kesadaran Beragama
Pikunas (1976) mengemukakan pendapat William Kay, yaitu bahwa
tugas utama perkembangan remaja adalah memperoleh kematangan sistem moral untuk
membimbing perilakunya. Kematangan remaja belumlah sempurna, jika tidak
memiliki kode moral yang dapat diterima secara unversal. Pendapat ini
menunjukkan tentang pentingnya remaja memilki landasarn hidup yang kokoh, yaitu
nilai-nilai moral, terutama yang bersumber dari agama. Terkait dengan kehidupan
beragama remaja, ternyata mengalamin proses yang cukup panjang untuk mencapai
kesadaran beragama yang diharapkan. Proses kesadaran beragama remaja itu
dipaparkan pada uraian berikut:
- Masa Remaja awal (usia 13-16 tahun)
Pada masa ini terjadi perubahan jasmani
yang cepat, yaitu dengan mulai tumbuhnya ciri-ciri keremajaan yang terkait
dengan matangnya organ-organ seks, yaitu: ciri primer (menstruasi pada anak
wanita dan mimpi pertama pada remaja pria) dan ciri sekunder (tumbuh kumis,
jakun, dan bulu-bulu disekitar kemaluan pada remaja pria dan membesarnya buah
dada/payudara, membesarnya pinggul dan tumbuhnya bulu-bulu disekitar kemaluan
pada remaja wanita).
Kegoncangan dalam keagamaan ini mungkin muncul karena disebabkan oleh faktor
internal maupun eksternal.
1. Faktor
internal, terkait dengan 1). matangnya organ-organ seks yang mendorong
remaja untuk memnuhi kebutuhan tersebut, namun disisi lain dia tahu perbuatan
itu dilarang oleh agama. 2). Berkembangnya sikap independen, keinginan untuk
hidup bebas, tidak mau terikat dengan norma-norma keluarga, sekolah atau agama.
2. Faktor
eksrternal, terkait dengan 1). Perkembangan kehidupan soaial budaya dan
masyarakat yang tidak jarang bertentangan dengan nilai-nilai agama. 2).
Perilaku orang dewasa, orang tua sendiri, para pejabat dan warga masyarakat
yang gaya hidupnya kurang mempedulikan agama, bersifat munafik, tidak jujur dan
perilaku amoral lainnya.
- Masa Remaja Akhir (17-21 tahun)
Secara psikologis, pada masa ini emosi
remaja sudah mulai stabil dan pemikirannya mulai matang. Dalam kehidupan
beragama, remaja sudah melibatkan diri kedalam kegiatan keagamaan. Remaja sudah
dapat membedakan agama sebagai ajaran dengan manusia sebagai penganutnya.
8.2. Tugas-tugas Perkembangan Remaja
Tugas-tugas perkembanghan terkait dengan sikap, pengetahuan, dan
keterampilan yang seyogyanya dimiliki setiap siswa sesuai dengan fase
perkembangannya.
Munculnya
Tugas-tugas perkembangan bersumber pada faktor-faktor berikut:
1.
Kematangan fisik, misalnya (1) belajar berjalan karena kematangan otot-otot
kaki, dan (2) belajar bergaul dengan jenis kelamin yang berbeda pada masa
remaja, karena kematangan hormon seksual.
2.
Tuntutan masyarakat secara kultural, misalnya (1) belajar membaca, (2) belajar
menulis, (3) belajar berhitung, (4) belajar berorganisasi.
3.
Tuntutan dari dorongan dan cita-cita siswa itu sendiri misalnya (1) memilih
pekerjaan, (2) memilih teman hidup.
4. Tuntutatn norma agama, misalnya (1) taat
beribadah kepada Allah, dan (2) berbuat baik kepada semua manusia.
Tugas-tugas perkembangan remaja adalah sebagai berikut:
- Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman
kualitasnya
- mencapai kemandirian emocional dari orang tua atau
figur-figur yang mempunyai otoritas
- Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal
- Mampu bergaul dengan teman sebaya atau orang lain
secara wajar
- Menemukan manusia model yang dijadikan pusat
identifikasinya
- Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap
kemampuan sendiri
- Memperoleh Self-control atas dasar skala
nilai, prinsip-prinsip atau falsafah hidup
- mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri yang
kekanak-kanakan
- Bertingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial
- Mengembangkan keterampilan intelectual dan
konsep-konsep yang diperlukan bagi warga negara.
- memilih dan mempersiapkan karir
- memiliki sikap positif terhadap pernikahan dan
hidup berkeluarga
- Mengalkan ajaran agama yang dianutnya.
` Alizabeth B.
Hurlock (1981) mengemukakan bahwa anak sekolah menengah atas
sudah mulai memikirkan masa depan mereka secara sungguh-sungguh. Anak laki-laki
biasanya lebih bersungguh-sungguh dalam perkerjaan dibanding dengan anak
perempuan yang memandang pekerjaan sebagai pengisi waktu sebelum menikah.
Apabila
dilihat dari tahapan karier dari Super dan Jordaan (John Milton
Dillard, 1985:200, masa remaja termasuk tahap eksplorasi pada tingkat
tentatif dan transisi (usia 15-21 tahun). Pada tahap tentatif (15-17),
faktor-faktor yang dipertimbangkan adalah kebutuhan, minat, kapasitas,
nilai-nilai dan kesempatan.
8.3. Problematika Remaja
Dewasa ini telah banyak laporan tentang berbagai kasus remaja yang
berprilaku menyimpang. Salah satu laporan tersebut(kasus di Amerika Serikat) dikemukakan
oleh William G. Wagner, dalam Jurnal ”The Counseling Psycholigist”(Vol 24 No.
3, juli 1996, halamn 360,363, yaitu sebagai berikut.
1. Remaja tahun 1990-an diimpresi sebagai periode
ketakberdayaan(halpless perio), sehingga mengurangi harapan masa depan
dirinya maupun masyarakat. Disebut periode tersebut, karena
menyimak beberapa laporan banyaknya remaja yang akrab dengan (a) alkohol dan
obat-obat terlarang,(b) senjata yang kiatannya denagn kematian , dan(c) hubungn
seksual yang penyakit HIV
2. Survey yang dilakukan oleh Departemen Sosial dan
Ekonomi Internasional pada tahun 1988 di beberapa negara barat, seperti Belgia,
Canada, Jerman, Honggaria, Norwegia, Inggris dan Amerika menujukkan bahwa 2/3
remaja berusia 19 tahun telah melakukkan hubungan seksual di luar pernikahan.
3. Sonestein dkk. (1989) telah melaporkan hasil
penelitiannya, yaitu bahwa sekitar 69% remaja Afrika-Amerika telah melakukan
hubungan seksual di luar nikah pada usia 15 tahun.
Anita E. Woolfolk(1991) mengemukakan beberapa hasil penelitian di Amerika
Serikat, sebagai berikut:
1. Institut
Guttmacher(1991) menemukan bahwa 80% remaja pria dan 75% remaja wanita
masing-masing berusia 19 tahun telah mengalami hubungan seksual di luar nikah.
2.
Newseek(1991) melaporkan bahwa 50% remaja usia 15 tahunan( pria-wanita) telah
melakukan hubungan seksual di luar nikah. Dampak dari perilaku seksual
tersebut, setiap tahunnya lebih dari satu juta remaja putri hamil, dan 30 ribu
di antaranya berusia di bawah 15 tahun.
3. Berdasarkan
estimasi dan National for Education Statistic menunjukkan bahwa 92% para
siswa SLTA telah kecanduan alkohol.
4. Pada tahun
1992 ditemukan bahwa 3% dari semua penderita AIDS (Acquired Immune Defesiency
Syndrome) adalah berusia di bawah 21 tahun yang penyebabnya adalah hubungan
seksual di luar nikah
5. Peristiwa
bunuh diri di kalangan remaja berusia 15-24 tahun semakin meningkat.
Terkait dengan AIDS , Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa lebih dari setengahnya pengidap AIDS yang
baru, secara global ternyata adalah anak-anak muda usia 15-24 tahun, terutama
remaja putri(Pikiran rakyat, September 1995).
Penyimpangan perilaku emaja seperti
terjadi di negara- negara barat tersebut, ternyata terjadi di negara-negara
barat tersebut, ternyata telah terjadi juga dikalangnan remaja atau kawula muda
di negeri kita tercinta ini, yang kondisinya dewasa ini semakin memprihatinkan.
Beberapa kasus penyimpangan perilaku remaja kita, diantaranya sebagai berikut:
1. Dadang Harawi (Pikiran
Rakyta, 5 Juli 1999) mengemukakan bahwa dewasa ini Indonesia tidak lagi menjadi
tempat transit, tetapi sudah menjadi pasar peredaran narkotika, alkohol, dan
zat adiktif yang cukup prihatinkan.
2. Sembilan pelajar SLTA kelas III(7
putri dan 2 putera) di salah satu kota di Jawa Barat telah di keluarkan dari
sekolah, karena telah diketahui telah melakukan amoral.
3. Menurut temusin timpeneliti Lembaga
Penelitian Universitas Indonesia, jumlah gadis yang berkunjung ke diskotik
,”ternyata jumlah anak gadis 56%. Mereka berkinjung ke diskotik untuk menemukan
ekspresi diri, identifikasi diri, disamping sebagai hiburan karena merasa tidak
betah di rumah.
4. Data konseling kehamilan remaja di
Lentera Sahaja PKBI mulai bulan Juni hingga Agustus 1999 menunjukkkan adanya571
kasus kehamilan yang tidak dikehendaki di kalanngan remaja.
Terkait dengan masalh-masalah
remaja(dalam hal ini para siswa) penulis telhdilakukan penulis telah melakukan
penelitian terhadap para siswa telah melakukan penelitian terhadap para siswa
di beberapa SMK di Jawa Barat pada sejak tahun1997. Penelitian tersebut
menemukan beberapa masalah siswa sebagai berikut:
a. Masalah Pribadi
– Kurang motivasi untuk mempelajari
agama
– kurang memahami agama sebagai pedoman
hidup
– kkurang menyadari bahwa setiap
perbuatan manusia diawasi Tuahn
– Masih merasa malas untuk melaksanakan
sholat
– kurang disiplin
-dll
b. Masalah
sosial
– Kurang
menynangi kritikan orang lain
– kurang
memahami tatakrama pergaulan
– kurang
berminat berpartipasi dalam kegiatan sosial
– sikap kurang
positif terhadap pernikahan
– Sikap kurang
positif terhadap hidup berakeluarga
– merasa malu
untuk berteman dengan lawan jenis
c. Masalah
belajar
– kurang
memiliki kebiasaan belajar yang baik
– kurang
memahami cara belajar yang efektif
– kurang
memahami cara mengatasi kesulitan belajar
– kurang
memahami cara membagi waktu belajar
– kurang
menyenangi mata pelajaran tertentu
d. Masalah
karir
– kurang
mengetahui cara memilih program studi
– kurang
mempunyai motivasi untuk mencari informasi tentang karir
– masih bingung
memilih pekerjaan
– Merasa cemas
untuk mendapat pekerjaan setelah lulus
– Belum
memiliki pilihan Perguruan Tinggi tertentu, jika setelah lulus tidak masuk
dunia kerja
BAB IX
Bimbingan di Sekolah
9.1. Program
Bimbingan di Sekolah
Program bimbingan dan konseling merupakan bagian yang
terpadu dari keseluruhan program pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, upaya
guru pembimbing maupun berbagai aspek yang tercakup merupakan bagian tidak
dapat dipisahkan dari seluruh bagian kegiatan yang diarahkan kepada pencapaian
tujuan pendidikan di lembaga yang bersangkutan.
1. Pengertian
Program Bimbingan
Menurut pendapat Hotch dan Costor yang dikutip oleh
Gipson dan Mitchell (1981) program bimbingan dan konseling adalah suatu program
yang memberikan layanan khusus yang dimaksudkan untuk membentu individu dalam
mengadakan penyesuaian diri. Program bimbingan itu menyangkut dua faktor,
yaitu: (1) faktor pelaksana atau orang yang akan menberikan bimbingan, dan (2)
faktor-faktor yang berkaitan perlengkapan, metode, bentuk layanan siswa-siswa,
dan sebagainya. Yang mempunyai kaitan dengan kegiatan bimbingan (Abu Ahmadi,
1997).
Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) menyatakan bahwa
program bimbingan yang disusun dengan baik dan rinci akan memberikan banyak
keuntungan , seperti :
a) Memungkinkan para petugas
menghemat waktu, usaha, biaya, dan menghindari kesalahan-kesalahan, dan usaha
coba-coba yang tidak menguntungkan.
b) Memungkinkan siswa untuk
mendapatkan layanan bimbingan secara seimbang dan menyeluruh.
c) Memungkinkan setiap petugas
mengetahui dan memahami peranannya masing-masing.
d) Memungkinkan para petugas untuk
menghayati pengalaman yang sangat berguna untuk kemajuannya sendiri.
2. Langkah-Langkah
Penyusunan Program Bimbingan
Dalam penyusunan program bimbingan perlu ditempuh
langkah-langkah seperti dikemukakan oleh Miller yang dikutip oleh Rochman
Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) seperti berikut :
a) Tahap Persiapan
b) Pertemuan-pertemuan
permulaan dengan para konselor yang telah ditunjuk oleh pemimpin sekolah
c) Pembentukan panitia
sementara untuk merumuskan program bimbingan.
d) Pembentukan panitia penyelenggara
program.
e) Penyusunan program
bimbingan dan konseling di sekolah hendaknya dirumuskan dan diinventarisasikan
berbagai fasilitas yang ada.
f) Penyusunan program
bimbingan dan konseling hendaknya merumuskan masalah-masalah yang dihadapi.
Di samping rumusan tentang langkah-langkah penyusunan
program bimbingan sebagaimana dikemukakan itu, berikut ini dapat pula disajikan
langkah-langkah penyusunan program bimbingan yang sederhana, yaitu :
a) Mengidentifikasi
kebutuhan-kebutuhan sekolah terutama yang ada kaitannya dengan bimbingan.
b) Setelah data terkumpul
perlu dilakukan penentuan urutan prioritas kegiatan yang akan dilakukan, dan
menyusun konsep program bimbingan yang akan dilakukan dalam kurun waktu
tertentu.
c) Konsep program bimbingan
dibahas bersama kepala sekolah dan bila perlu mengundang personel sekolah.
d) Penyempurnaan konsep program yang
telah di bahas bersama kepala sekolah.
e) Pelaksanaan program yang
telah direncanakan
f) Evaluasi
g) Revisi
3.
Variasi Program Bimbingan menurut jenjang Pendidikan
Winkel memberikan rambu-rambu yang perlu diperhatikan dalam
menyusun program bimbingan di tingakt pendidikan tertentu, yaitu :
a. Menyusun tujuan
pendidikan tertentu
b. Menyusun tugas-tugas
perkembangan dan kebutuhan-kebutuhan peserta didik
c. Menyusun pola dasar
sebagi pedoman dalam memberikan layanan
d. Menentukan
komponen-komponen bimbingan yang diprioritaskan
e. Menentukan bentuk
bimbingan yang diutamakan
f. Menentukan
tenaga-tenaga bimbingan yang dapay dimanfaatkan
a.
Pendidikan Taman Kanak-Kanak
Layanan bimbingan dan konseling di taman kanak-kanak
hendaknya ditekankan pada :
a) Bimbingan yang berkaitan
dengan kemandirian dan keharmonisan dalam menjalin hubungan social dengan teman
sebayanya.
b) Bimbingan pribadi.
Di samping itu, bimbingan untuk taman kanak-kanak perlu
dilakukan untuk memenuhi kebutuhan psikologis, seperti pemberian kasih saying
dan perasaan aman.
b.
Program Bimbingan di Sekolah Dasar
Program kegiatan bimbingan dan konseling untuk siswa-siswa
sekolah dasar lebih menekankan pada usaha pencapaian tugas-tugas perkembangan
mereka antara lain mengatur kegiatan belajarnya dengan bertanggung jawab, dapat
berbuat dengan cara-cara yang dapat diterima oleh orang dewasa serta
teman-teman sebayanya, mengembangkan kesadaran moral berdasarkan nilai-nilai
kehidupan dengan membentuk kata hati (Winkel, 1991).
Gibson dan Mitchell (1981) mengemukakan beberapa factor yang
harus dipertimbangkan, seperti :
a) Menekankan pada
aktivitas-aktivitas belajar
b) Masih menggunakan sistem
guru kelas
c) Kecenderungan anak
bergantung pada teman sebayanya
d) Minat orang tua dominan
mempengaruhi nilai kehidupan anak
e) Masalah-masalah yang timbul
di SD tidak terlalu kompleks.
c.
Program Bimbingan di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
Program bimbingan dan konseling di SLTP hendaknya
berorientasi kepada pencapaian tugas-tugas perkembangannya. Secara garis besar
program bimbingan dan konseling di SLTP hendaknya berorientasi kepada :
a) Bimbingan belajar
b) Bimbingan hubungan sosial
c) Membentuk kelompok sebaya (peer
group)
d) Tugas-tugas perkembangan anak
usia 12-15 tahun
e) Bimbingan karir
d.
Program Bimbingan di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas
Program bimbingan dan konseling di SLTA hendaknya dapat
mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi siswa, sehingga mereka dapat
mencapai tugas-tugas perkembangan dengan baik. Oleh sebab itu, program
bimbingan di SLTA berorientasi pada :
a) Hubungan sosial
b) Pemberian infoemasi
pendidikan dan jabatan
c) Bimbingan cara belajar
e.
Program Bimbingan di Perguruan Tinggi
Efektivitas dan efesiensi program bimbingan dapat terwujud bila diarahkan
kepada masalah-masalah. Oleh sebab itu, program bimbingan di perguruan tinggi
hendaknya berorientasi kepada :
a) Bimbingan belajar di
perguruan tinggi atau bimbingan yang bersifat akademik
b) Hubungan sosial
4.
Tenaga Bimbingan di Sekolah Beserta Fungsi dan Peranannya
Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian yang integral dari keseluruhan
proses pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, pelaksanaan bimbingan dan
konseling di sekolah menjadi tanggung jawab bersama antara personel sekolah
(Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya 1985). Dengan demikian, diperlukan adanya
keterpaduan dan kebersamaan di antara personel sekolah dalam pelaksanaan
bimbingan.
a.
Kepala Sekolah
Dalam pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah, kepala sekolah
mempunyai tugas sebagai berikut :
a) Membuat rencana atau
program sekolah secara menyeluruh
b) Mendelegasikan tanggung
jawab tertentu dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling
c) Mengawasi pelaksanaan
program
d) Melengkapi dan menyediakan
kebutuhan fasilitas bimbingan dan konseling
e) Mempertanggungjawabkan
program tersebut baik di dalam maupun di luar sekolah
f) Mengadakan hubungan
dengan lembaga-lembaga dalam rangka kerjasama pelaksanaan bimbingan.
b.
Konselor
Peran dan tugas konselor di sekolah dalam kegiatan bimbingan dan konseling
adalah :
a) Menyusun program bimbingan
dan konseling bersma kepala sekolah
b) Bertanggung jawab terhadap
jalannya program
c) Memberikan laporan kegiatan
kepada kepala sekolah
d) Menerima dan mengklasifikasikan
informasi pendidikan
e) Menganalisis dan
menafsirkan data siswa
f) Menyelenggarakan
pertemuan staf
g) Melaksanakan bimbingan
kelompok dan konseling individual
h) Menilai proses dan hasil
pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling
i) Melakukan studi
kelayakan
j) Berkolaborasi
dengan guru mata pelaajran
k) Mengadministrasikan
kegiatan program pelayanan bimbingan dan konseling.
c.
Wali Kelas
Peran dan tanggung jawab wali kelas adalah :
a) Mengumpulkan data tentang
siswa
b) Mengadakan kegiatan
orientasi
c) Mengobservasi kegiuatan
siswa di rumah
d) Meneliti kemajuan dan
perkembangan siswa
e) Bekerja sama dengan konselor
dalam mengadakan pemeriksaan
f) Berpartisipasi dalam
kegiatan khusus penanganan maslah peserta didik.
d.
Guru/Pengajar
Tugas dan tanggung jawab guru dalam kegiatan ini adalah :
a) Turut serta aktif dalam
membantu mellaksanakan kegiatan program BK
b) Memberikan informasi kepada
siswa
c) Meneliti kesulitan dan
kemajuan siswa
d) Memberikan layanan intruksional
e) Mengadakan hubungan dengan
orang tua siswa
f) Mengidentifikasi
bakat siswa
e.
Petugas Administrasi
Tugas dan tanggung jawab petugas administrasi dalam kegiatan bimbingan dan
konseling adalah :
a) Mengisi kartu pribadi siswa
b) Menyimpan catatan-catatan
dan data lainnya
c) Menyelesaikan laporan dan
pengumpuilan data tentang siswa
d) Menyiapkan alat-alat atau
formulir-formulir pengumpulan data siswa
5.
Struktur Organisasi Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Mekanisme
Implementasi Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Untuk melaksanakan program bimbingan dan konseling di
sekolah, konselor beserta personel sekolah perlu memperhatikan komponen
kegiatan sebagai berikut :
a.
Komponen Pemrosesan Data
Kegiatan layanan bimbingan dan konseling di sekolah meliputi
beberapa aspek, yaitu : (1) pengumpulan data, (2) pengklkasifikasian, (3)
penyediaan data yang diperlukan, (4) penyimpanan, (5) penafsiran. Data yang
perlu diproses adalah tentang keadaan siswa di sekolah yang meliputi : (1)
kemampuan skolastik, (2) cita-cita, (3) hubungan social, (4) minat terhadap
mata pelajaran, (5) kebiasaan belajar, (6) kesehatan fisik, (7) pekerjaan orang
tua, (8) keadaan keluarga.
b.
Komponen Kegiatan Pemberian
Informasi
Komponen ini terdiri : (1) pemberian orientasi kehidupan
sekolah kepada siswa. (2) pemberian informasi tentang program studi kepada
siswa yang dipandang memerlukannya, (3) pemberian informasi jabatan kepada
siswa, (4) pemberian informasi pendidikan lanjutan.
c.
Komponen Kegiatan Konseling
Konseling dilakukan terhadap siswa yang mengalami masalah
yang sifatnya lebih probadi. Jika ada masalah yang tidak dapat diatasi oleh
petugas yang bersangkutan, perlu di alihtangankan kepada pihak yang lebih ahli.
d.
Komponen Pelaksana
Pelaksana jenis kegiatan tersebut adalah konselor sekolah,
konselor bersama guru bidang studi dan juga kepala sekolah sesuai dengan fungsi
peranannya masing-masing.
e.
Komponen Metode/Alat
Alat yang dipakai untuk melaksanakan kegiatan yang telah
direncanakan itu adalah: angket kartu pribadi, konseling dan sebagainya.
f.
Komponen Waktu Kegiatan
Jadwal kegiatan layanan dapat dilakukan pada awal tahun
pelajaran atau waktu lain tergantung dari jenis atau macam kegiatan yang
akan dilakukan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
g.
Komponen Sumber Data
Data yang diperlukan dapat diperoleh langsung dari siswa
yang bersangkutan. Hal ini tergantung atau jenis data yang diperlukan. Semua
kegiatan ini dikoordinasikan oleh konselor dan dipertanggungjawabkan kepada
kepala sekolah.
9.2.
Peranan Guru Dalam Pelaksanaan
Bimbingan di Sekolah
Peranan guru dalam bimbingan di sekolah dapat di bedakan
menjadi dua, yaitu : (a) tugas dalam layanan bimbingan dalam kelas dan (b) di
luar kelas.
a.
Tugas Guru dalam Layanan Bimbingan
di kelas
Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) mengemukakan
beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam proses belajar-mengajar sesuai
dengan fungsinya dan pembimbing, yaitu
a)
Perlakuan terhdap siswa didasarkan
atas keyakinan bahwa sebagai individu, siswa memiliki potensi untuk
dikembangkan dan maju serta mampu mengarahkan dirinya sendiri untuk madiri.
b)
Sikap yang positif dan wajar
terhadap siswa
c)
Pemahaman siswa secara empatik
d)
Penerimaan siswa apa adanya
e)
Penghargaan terhadap martabat siswa sebagai
individu
Abu Ahmadi (1977) mengemukakan peran guru sebagai pembimbing
dalam melaksanakan proses belajar-mengajar, sebagai berikut :
a)
Menyediakan kondisi dan kesempatan
bagi setiap siswa untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
b)
Membantu memilih jabatan yang cocok,
sesuai dengan bakat, kemampuan dan minatnya.
c)
Mengusahakan siswa-siswa agar dapat
memahami dirinya, kecakapan-kecakapan sikap, minat, dan pembawaannya.
d)
Mengembangkan sikap-sikap dasar bagi
tingkah laku sosial yang baik.
Di samping tugas-tugas tersebut, guru juga dapat melakukan tugas bimbingan
dalam proses pembelajaran seperti berikut :
a)
Melaksanakan kegiatan diagnostic
kesulitan belajar.
b)
Memberikan bantuan sesuai dengan
kemampuan dan kewenangannya kepada murid dalam memecahkan masalah pribadi.
b.
Tugas Guru dalam Operasional
Bimbingan di Luar Kelas
Tugas-tugas guru dalam layanan bimbingan di luar kelas antara lain :
a)
Memberikan pengajaran perbaikan (remedial
teaching)
b)
Memberikan pengayaan dan
pengembangan bakat siswa
c)
Melakukan kunjungan rumah (home
visit)
d)
Menyelenggarakan kelompok belajar
9.3.
Kerjasama Guru dengan Konselor dalam
Layanan Bimbingan
Dalam kegiatan-kegiatan
belajar-mengajar sangat diperlukan adanya kerja sama antara guru dengan
konselor demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Rochman Natawidjaja dan Moh.
Surya (1985) mengutip pendapat Miller yang mengatakan bahwa :
a)
Proses belajar menjadi sangat
efektif, apabila bahan yang dipelajari dikaitkan langsung dengan tujuan-tujuan
pribadi siswa.
b)
Guru yang memahami siswa dan
masalah-masalah yang dihadapinya, lebih peka terhadap hal-hal yang dapat
memperlancar dan mengganggu kelancaran kelas.
c)
Guru dapat memperhatikan
perkembangan masalah atau kesulitan siswa secara lebih nyata.
Guru juga mempunyai beberapa keterbatasan. Menurut Koestoer Partowisastro
(1982) keterbatasan-keterbatasan guru tersebut antara lain :
a)
Guru tidak mungkin lagi menangani
masalah-masalah siswa yang bermacam-macam, karena guru tidak terlatih untuk
melaksanakan tugas itu.
b)
Guru sendiri sudah berat tugas
mengajarnya, sehingga tidak mungkin lagi di tambah tugas yang banyak untuk
memecahkan masalah-masalah siswa.